Senin, 10 Januari 2011

budaya bone selatan

[phe
32
Tahun Damai


pakkacaping.jpgHOME
Kebudayaan dan Arsitektur Rumah Bangsa Bugis
PDF
Cetak
E-mail

   

Sample Image


Kebudayaan Bugis seringkali digabungkan dengan kebudayaan Makassar, kemudian disebut kebudayaan Bugis-Makassar. Kebudayaan tersebut mendiami bagian terbesar jazirah selatan pulau Sulawesi. Di Sulawesi selatan terdiri atas 15 suku, yakni Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, Ulumanda, Bentong, Bajo, Luwu, Kajang , Campalagian, Enrekang, Konjo, Duri, Maiwa, dan Pannei. namun suku Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar yang memiliki komunitas terbesar. sehingga seluruh suku tersebut dapat dikatakan sebagai BANGSA BUGIS? (lihat : www.bangsabugis.blogspot.com)  Secara etnologi, Bangsa Bugis merupakan keturunan Melayu Muda yang disebut Deutro Melayu yang berasal dari India Belakang. mereka datang secara bergelombang. Gelombang pertama adalah Melayu Tua yakni nenek moyang suku Toraja. Gelombang kedua adalah Melayu Muda (Deutro melayu) yang merupakan nenek moyang suku Bugis, Makassar, Mandar dan suku lainnya selain suku Toraja. Suku Bugis menggunakan bahas pengantar Bahasa " Ugi " dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk "Lontara". Huruf yang dipakai adalah "Aksara Lontara".
          Kampung kuno bangsa Bugis umumnya terdiri dari 10 samapai 200 rumah. Rumah-rumah tersebut biasanya berderet menghadap Selatan atau Barat. Jika ada sungai, maka rumah-rumah tersebut diupayakan membelakangi sungai. Adapun pusat kampung yang lama atau induk kampung biasa disebut "POSI TANA" yang biasanya tempat itu keramat dan tumbuh berdiri pohon beringin yang besar dan rindang. kemudian Kawasan “Posi Tana” tersebut berdiri satu rumah tempat pemujaan yang disebut "Saukang" dan suatu kampung selain kawasan Posi tanah juga berdiri langgar atau Langkara' yaitu masjid berukuran kecil. Pola perkampungan Bangsa Bugis pada umumnya mengelompok padat dan menyebar. Pola kelompok banyak atau padat banyak berdiri di dataran rendah, baik dekat pinggir laut, persawahan atau kebun.
            Pola perkampungan Bangsa Bugis dapat dibedakan berdasarkan tempat pekerjaanmya, yaitu :
1.  Pallaung Ruma (Kampung Petani), yaitu kawasan perkampungan tersebut didiami oleh masyarakat yang mata   pencahariannya bertani.
2.  Pakkaja (Kampung Nelayan), yaitu kawasan perkampungan tersebut didiami oleh masyarakat yang mata   pencahariannya nelayan.
3.Matowa / Pangulu ( Kepala Kampung )
            Selain pembagian berdasatkan tempat pekerjaannya di atas, pada Kampung Bugis juga terdapat pasar kampung, pekuburan, masjid atau mushallah. Bangsa Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang berkaitan dengan arsitektur. Pelapisan sosial tersebut seperti Anakkarung (Bangsawan/ningrat), To Maradeka (rakyat biasa), dan Ata (Hamba Sahaya).
            Berdasarkan lapisan sosial penghuninya, maka berdampak pula pada bentuk rumah kediamannya yang dibedakan dengan simbol, yaitu :
1. Sao Raja atau Salassa, yakni rumah besar yang didiami oleh keluarga Anakkarung (bangsawan). Rumah ini memiliki tiang dengan tangga beralas bertingkat di bagian bawah kemudian menggunakan Sapana (atap di atasnya) dengan bubungan rumah bertingkat tiga atau lebih.
2.Sao Piti yakni rumah agak kecil yang didiami oleh keluarga To maradeka tidak menggunakan sapana dan bubungannya hanya dua.
3.Bola (Rumah biasa), yakni rumah yang didiami oleh masyarakat umumnya.
    Secara pola morfologinya, arsitektur tradisi Bangsa Bugis terdiri atas dua pola sebagai berikut :
A. POLA PENATAAN SPATIAL   
Arsitektur rumah bangsa Bugis pada umumnya tidak bersekat-sekat, tanpa serambi yang terbuka. Tangga depan biasanya terletak dibagian pinggir. Didekat tangga tersedia tempat air untuk mencuci kaki. Tangga rumah dinaungi dengan atap kemudian di kiri atau kanan tangga terdapat pegangan untuk menaiki rumah. Di depan pintu masuk terdapat "Tamping" semacam ruang tunggu bagi tamu sebelum dipersilakan masuk oleh tuan rumah. Posisi "Tamping"  ini biasanya agak lebih rendah dari lantai ruang utama rumah.
    Menurut fungsinya rumah bangsa Bugis dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Rakkiang yaitu bagian atas rumah di bawah atap yang berfungsi sebagai tempat menyimpan padi atau jagung serta benda-benda pusaka dan kadang pula dijadikan tempat menyembunyikan calon pengantin perempuan dan tempat berdandan gadis pingitan
2. Ale Bola /Watampola, yaitu terletak antara lantai dan loteng adalah ruang tinggal dan dibagi-bagi menjadi ruang-ruang khusus untuk menerima tamu,tidur, dan makan.
3. Awaso, yaitu kolong rumah yang terletak dibagian bawah antara lantai dengan tanah atau bagian bawah lantai panggung yang dipakai untuk menyimpan alat-alat pertanian dan hewan ternak.

Selanjutnya pembagian ruang atau "Latte" pada bangunan rumah bangsa Bugis dikelompokkan dalam tiga bagian antara lain :
1. Latte Saliweng (Ruang Depan)yaitu berfungsi menerima tamu, tempat tidur tamu, tempat musyawarah, tempat membaringkan mayat sebelum dikebumikan,dan sebagai tempat berkomunikasi bagi orang luar yang sudah diizinkan masuk. Sebelum memasuki ruangan ini maka orang luar (tamu) diterima dahulu di "Tamping" atau ruang transisi.
2. Latte Tengngah (Ruang tengah) yaitu berfungsi sebagai tempat tidur kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa, tempat makan,tempat melahirkan. kegiatan yang bersifai informal (kekeluargaan) bertempat diruang ini.
3. Latte Laleng (Ruang Dalam) berfungsi sebagai tempat tidur anak gadis dan nenek/kakek. karena anggota keluarga ini dianggap perlu mendapat perlindungan dari anggota keluarga.
            Khusus untuk "Saoraja" ada tambahan dua ruangan lagi, yaitu :
1.  Lego-lego
Berfungsi sebagai tempat duduk tamu sebelum masuk dan tempat meNononton bila ada acara di luar rumah.
2.  Dapureng (Dapur) yaitu terletak dibelakang atau samping yang berfungsi untuk ruang memasak dan menyimpan peralatan masak
B. POLA PENATAAN STILISTIKA
1.    Atap (Bakkaweng)
Penampakan bangunan tersusun dari beberapa bagian sesuai dengan           fungsinya. Bagian atas (Rakkiang) baik Saoraja (Untuk Rumah bangsawan) maupun Bola (Rumah rakyat Biasa) terdiri dari loteng dan atap. Atapnya berbentuk prisma, memakai tutup bubungan yang disebut "TIMPA' LAJA) memiliki bentuk yang berbeda antara Saoraja dan Bola. Bagian ini merupakan sebagai kepala bangunan. Pada Saoraja terdapat 'Timpa' Laja' yang bertingkat-tingkat dari tiga sampai lima tingkat.Timpa' Laja yang bertingkat lima menandakan rumah tersebut adalah kepunyaan bangsawan tinggi. Timpa' Laja bertingkat empat adalah milik bangsawan yang memegang kekuasaan dan jabatan. Bagi bangsawan yang tidak memiliki jabatan pemerintahan, rumahnya hanya memilki tiga tingkat. Bagi rakyat biasa dalam kelompok To Maradeka dapat juga memakai Timpa' Laja pada rumahnya, tetapi hanya dibenarkan maksimal dua tingkat saja.
2.    Pintu (Tange/Babang)
Berfungsi untuk jalan keluar/masuk rumah. Tempat pintu biasanya selalu diletakkan pada bilangan ukuran genap. Misalnya bila ukuran rumah 7 depa maka pintu harus diletakkan pada depa yang ke-6 atau ke-4 diukur dari kanan rumah. Apabila penempatan pintu ini tidak tepat pada bilangan genap dapat menyebabkan rumah mudah untuk dimasuki pencuri atau penjahat lainnya.
3.  Jendela (Tellongeng)
Berfungsi untuk ventilasi udara dan tempat melihat ke luar rumah. peletakannya biasanya pada dinding diantara dua tiang bangunan rumah. Untuk memperindah bagian bawah Jendela (Tellongeng) biasanya ditambahkan hiasan berupa ukiran atau terali dari kayu dengan jumlah bilangan ganjil. Jumlah terali dapat menunjukkan status penghuninya.Jika jumlah terali 3-5 menunjukkan rakyat biasa dan jika 7-9 menunjukkan rumah bangsawan
4.    Hiasan (Belo-belo)
          Ragam hias bangunan arsitektur Bangsa Bugis umumnya bersumber dari alam  sekitar, biasanya berupa flora (Tumbuhan), fauna (Hewan), dan tulisan Arab atau kaligrafi.
Ragam hias dari flora berupa sulur-sulur bunga yang menjalar biasanya menggunakan teknik pahat tiga dimensi yang membentuk lubang terawang. Bentuk demikian selain menampakkan keindahan karena adanya efek pencahayaan yang dibiaskan juga dapat menyalurkan angin dengan baik.

Ragam hias fauna biasanya berupa ayam jantan, kepala kerbau,dan tanduk rusa. Ayam jantan dalam bahasa Bugis disebut "Manu' Lai'sebagai simbol keberanian.Biasanya ditempatkan dipuncak bubungan rumah bagian depan atau belakang.
Ragam hias dari kepala kerbau melambangkan kekayaan dan status sosial. Biasanya ditempatkan pada pucuk depan atau belakang bubungan untuk rumah bangsawan.
Ragam hias dari tanduk rusa digunakan untuk tempat menggantung songkok/topi atau baju. Sedangkan ragam hias berupa kaligrafi biasanya ditempatkan pada bangunan peribadatan atau Langgar/masjid.
C. POLA PENATAAN STRUKTUR
Bahan bangunan utama yang banyak digunakan umumnya adalah kayu yang berasal dari Ipi, Kayu Bitti', Cendana,besi, pohon kapok, pinang, batang enau, Nangka, lontar, kelapa, dan ijuk. Dinding dari anyaman bambu atau papan. Atap dari daun nipah, sirip atau seng.
  Sistem struktur menggunakan rumah panggung dengan menggunakan tiang penyangga dan tidak menggunakan pondasi. rumah tradisional yang paling tua, tiang penyangganya langsung ditanam di tanah. Adapun tahap yang paling penting dalam sistem struktur bangunan rumah bangsa Bugis adalah pembuatan "Alliri atau Tiang". Pembuatan tiang dimulai dengan membuat Posi Bola (Tiang sebagai Pusat Rumah). Bila rumah terdiri dari dua petak maka Tiang Pusat terletak pada baris kedua dari depan dan baris kedua dari samping kanan. Bila tiga petak atau lebih maka letak Tiang Pusat pada baris ketiga dari depan dan baris kedua dari samping kanan.
Struktur rumah bangsa Bugis dapat dirinci sebagai berikut :
1.  Untuk Saoraja minimal memiliki empat petak atau 25 kolom (lima-lima)
2.  Untuk Bola memilki tiga petak atau 16 kolom
3.  Terdapat Posi Bola (Pusat Rumah) berupa tiang yang paling penting dalam sebuah rumah, biasanya terbuat dari kayu nangka atau durian, letaknya pada deretan kolom kedua dari depan, dan kedua dari samping kanan.
4.  Tangga diletakkan di depan atau belakang biasanya dipasang di Lego-lego dan arahnya sesuai dengan panjang rumah atau lebar rumah. Biasanya juga terdapat tangga menuju Loteng atau Rakkiang
5.  Atap berbentuk segitiga samakaki yang digunakan untuk menutup bagian muka atau bagian belakang rumah.
6.  Salima/Dapara’ (Lantai) biasanya terbuat dari bahan bambu atau papan
7.  Tellongeng (jendela) jumlahnya tujuh buah untuk bangsawan dan tiga buah untuk rakyat biasa.
8.  Tange/Sumpang (Pintu) menurut kepercayaan Bugis jika salah meletakkan dapat tertimpa bencana. Untuk menghindari hal tersebut, maka pintu diletakkan dengan cara sebagai berikut :Jika lebar rumah sembilan depa, maka pintu diposisikan pada depa ke-8; artinya lebar rumah selalu ganjil dan pintu diletakkan pada angka genap.
(Teluk Bone)
Tahun Damai
HOME
Malaweng dan Hukum Adat Bangsa Bugis
PDF
Cetak
E-mail

Setiap suku bangsa memiliki adat tersendiri yang merupakan pencerminan kepribadian dan penjelmaan dari pada jiwa bangsa itu sendiri. Demikian pula bangsa Bugis memiliki  tatanan hukum adat dalam menjalani kehidupannya.
Adat merupakan pencerminan kepribadian suatu bangsa yang berlangsung turun temurun dari abad ke abad. Setiap bangsa di dunia tentu memiliki adat kebiasaan sendiri-sendiri, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Sehingga ketidaksamaan inilah yang memberikan identitas antara bangsa yang satu dengan yang lainnya.
            Adat diibaratkan sebuah fundasi yang kukuh, sehingga kehidupan modern pun ternyata tidak mampu melengserkan adat-kebiasaan yang hidup dalam masyarakat. Karena adat itu dapat mengadaptasikan diri dengan keadaan dalam proses kemajuan zaman sehingga adat itu tetap kekal dan tegar menghadapi tantangan zaman.
            Hukum adat merupakan sesuatu tatanan hidup masyarakat yang kemudian menjadi hukum yang tidak tertulis. walaupun demikian tetap dipatuhi berdasarkan atas keyakinan bahwa peraturan-peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum.
            Dahulu, dikalangan bangsa Bugis Bone dikenal hukum adat dengan istilah “Malaweng”. Dari berbagai sumber yang diperoleh penulis bahwa, Hukum Adat Malaweng itu terdapat tiga tingkatan, yaitu :
1.    Malaweng tingkat pertama (Malaweng Pakkita), yakni sesorang yang melakukan pelanggaran melalui pandangan mata. Misalnya, menatap sinis kepada orang lain, menatap tajam laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dan lain sejenisnya.
2.    Malaweng tingkat kedua (Malaweng Ada-ada), yakni seseorang yang melakukan pelanggaran melalui kata-kata yang diucapkan. Misalnya, berkata yang tidak senonoh kepada orang, membicarakan aib orang lain, berkata sombong dan angkuh, berkata kasar kepada lawan bicaranya, dan lain sejenisnya.
3.    Malaweng tingkat ketiga ( Malaweng Kedo-kedo), yakni seseorang yang melakukan pelanggaran karena perbuatan tingkah laku. Misalnya, laki-laki melakukan hubungan intim dengan perempuan adik atau kakak kandungnya sendiri, membawa lari anak gadis (silariang), melakukan hubungan intim dengan ibu/ayah kandungnya sendiri, menghilangkan nyawa orang lain, mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan yang punya, dan lain sejenisnya.
Dahulu, khusus dalam hal kawin mawin dengan saudara kandungnya sendiri atau ayah/ibu kandungnya sendiri  tergolong pelanggarang pelanggaran adat yang paling berat karena apabila hal ini terjadi maka keduanya baik laki-laki maupun perempuan mendapat hukuman dengan cara “Riladung” yakni keduanya dimasukkan ke dalam sebuah karung yang diikat dengan tali kemudian ditenggelamkan ke dasar laut dengan menggunakan alat pemberat batu. Dahulu, salah satu tempat eksekusi yang ada di Bone adalah Kawasan Tanjung Pallette yang berjarak 12 km dari kota Watampone sekarang ini. Keduanya dinaikkan kesebuah perahu kecil dan dibawa ke arah timur sejauh 3 km dari pantai Tanjung Pallette kemudian ditenggelamkan ke laut.
 (Teluk Bone) 


tanah_bangkalae.jpg
Tanah Bangkala’E
Sejarah mencatat bahwa Bone merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara pada masa lalu. Kerajaan Bone yang dalam catatan sejarah didirikan oleh ManurungngE Rimatajang pada tahun 1330, mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Latenritatta Towappatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee Gemmekna Petta Torisompae Matinroe ri Bontoala, pertengahan abad ke-17 (A. Sultan Kasim,2002). Kebesaran kerajaan Bone tersebut dapat memberi pelajaran dan hikmah yang memadai bagi masyarakat Bone saat ini dalam rangka menjawab dinamika pembangunan dan perubahan-perubahan sosial, perubahan ekonomi, pergeseran budaya serta dalam menghadapi kecenderungan yang bersifat global.
Belajar dan mengambil hikmah dari sejarah kerajaan Bone pada masa lalu minimal terdapat tiga hal yang bersifat mendasar untuk diaktualisasikan dan dihidupkan kembali karena memiliki persesuaian dengan kebutuhan masyarakat Bone dalam upaya menata kehidupan kearah yang lebih baik.
Ketiga hal yang dimaksud adalah :

Pertama
, pelajaran dan hikmah dalam bidang politik dan tata pemerintahan. Dalam hubungannya dengan bidang ini, sistem kerajaan Bone pada masa lalu sangat menjunjung tinggi kedaulatan rakyat atau dalam terminology politik modern dikenal dengan istilah demokrasi. Ini dibuktikan dengan penerapan representasi kepentingan rakyat melalui lembaga perwakilan mereka di dalam dewan adat yang disebut “ade pitue”, yaitu tujuh orang pejabat adat yang bertindak sebagai penasehat raja. Segala sesuatu yang terjadi dalam kerajaan dimusyawarahkan oleh ade pitue dan hasil keputusan musyawarah disampaikan kepada raja untuk dilaksanakan.
Selain itu di dalam penyelanggaraan pemerintahan sangat mengedepankan azas kemanusiaan dan musyawarah. Prinsip ini berasal dari pesan Kajaolaliddong seorang cerdik cendikia Bone yang hidup pada tahun 1507-1586 yang pernah disampaikan kepada Raja Bone seperti yang dikemukakan oleh Wiwiek P . Yoesoep (1982 : 10) bahwa terdapat empat faktor yang membesarkan kerajaan yaitu:
  1. Seuwani, Temmatinroi matanna Arung MangkauE mitai munrinna gauE (Mata Raja tak terpejam memikirkan akibat segala perbuatan).
  2. Maduanna, Maccapi Arung MangkauE duppai ada’ (Raja harus pintar menjawab kata-kata).
  3. Matellunna, Maccapi Arung MangkauE mpinru ada’ (Raja harus pintar membuat kata-kata atau jawaban).
  4. Maeppa’na, Tettakalupai surona mpawa ada tongeng (Duta tidak lupa menyampaikan kata-kata yang benar).
Pesan Kajaolaliddong ini antara lain dapat diinterpretasikan ke dalam pemaknaan yang mendalam bagi seorang raja betapa pentingnya perasaan, pikiran dan kehendak rakyat dipahami dan disikapi.

Kedua
, yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone terletak pada pandangan yang meletakkan kerjasama dengan daerah lain, dan pendekatan diplomasi sebagai bagian penting dari usaha membangun negeri agar menjadi lebih baik.
Urgensi terhadap pandangan seperti itu tampak jelas ketika kita menelusuri puncak-puncak kejayaan Bone dimasa lalu.
Dan sebagai bentuk monumental dari pandangan ini di kenal dalam sejarah akan perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng yang melahirkan TELLUM POCCOE atau dengan sebutan lain “LaMumpatue Ri Timurung” yang dimaksudkan sebagai upaya memperkuat posisi kerajaan dalam menghadapi tantangan dari luar.

Kemudian pelajaran dan hikmah yang ketiga dapat dipetik dari sejarah kerajaan Bone adalah warisan budaya kaya dengan pesan. Pesan kemanusiaan yang mencerminkan kecerdasan manusia Bone pada masa lalu.
kirab.jpg
Banyak refrensi yang bisa dipetik dari sari pati ajaran Islam dalam menghadapi kehidupan, dalam menjawab tantangan pembangunan dan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang semakin cepat. Namun yang terpenting adalah bahwa semangat religiusitas orang Bone dapat menjawab perkembangan zaman dengan segala bentuk perubahan dan dinamikanya. Demikian halnya (kabupaten Bone) potensi yang besar yang dimiliki, yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan demi kemakmuran rakyat. Potensi itu cukup beragam seperti dalam bidang pertanian, perkebunan, kelautan, pariwisata dan potensi lainnya.
Demikian masyarakatnya dengan berbagai latar belakang pengalaman dan pendidikan dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendorong pelaksanaan pembangunan Bone itu sendiri. Walaupun Bone memiliki warisan sejarah dan budaya yang cukup memadai, potensi sumber daya alam serta dukungan SDM, namun patut digaris bawahi jika saat ini dan untuk perkembangan ke depan Bone akan berhadapan dengan berbagai perubahan dan tantangan pembangunan yang cukup berat. Oleh karena itu diperlukan pemikiran, gagasan dan perencanaan yang tepat dalam mengorganisir warisan sejarah, kekayaan budaya, dan potensi yang dimiliki ke dalam suatu pengelolaan pemerintahan dan pembangunan.
:: Wisata Budayahttp://www.bone.go.id/boneimg/spacer.gif

http://www.bone.go.id/boneimg/pariwisata/bola-soba.jpg
Bola Soba

Wisata Budaya Kab. Bone:
  1. Rumah Adat Bugis (Bola Somba) di Watampone
  2. Museum Saoraja Lapawawoi Kr. Sigeri di Watampone
  3. Makam Raja-Raja Bone di Bukaka Watampone
  4. Makam Raja-raja di Lalebata Lamuru

http://www.bone.go.id/boneimg/pariwisata/museum.jpg
Museum Lapawawoi Bone


http://www.bone.go.id/boneimg/pariwisata/makamraja1.jpg
Makam Raja-Raja Bone di Bukaka Watampone


http://www.bone.go.id/boneimg/pariwisata/makamraja2.jpg

http://www.bone.go.id/boneimg/pariwisata/makamraja3.jpg

http://www.bone.go.id/boneimg/spacer.gif
http://www.bone.go.id/boneimg/spacer.gif
 :: Peta Kab. Bonehttp://www.bone.go.id/boneimg/spacer.gif

http://www.bone.go.id/boneimg/petabone.jpg

http://www.bone.go.id/boneimg/spacer.gif

http://htmlimg1.scribdassets.com/22yduli18g5siie/images/1-a5579473af/000.jpg
Lembaga Seni Budaya Teluk Bone adalah wadah pembinaan Seni, Budaya, dan sumber
informasi yang didirikan pada tanggal 13 Agustus 2000. Berbadan hukum pada tahun 2006
dengan Akta Notaris No.3 tanggal 19 Mei 2006. Dengan tujuan memberikan sumbangan kepada
pembangunan menuju tercapainya masyarakat Indonesia yang adil makmur melalui pelestarian,
pengembangan, dan pengkajian nilai-nilai sosial seni budaya yang luhur yang dijiwai Pancasila.
Mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai seni budaya yang luhur berarti menjalankan usaha
dengan memelihara keseimbangan nilai seiring perkembangan teknologi sebagai bagian yang tak
terpisahkan. Dengan secara adil memperhatikan semua pihak yang berkepentingan baik
organisasi , pemerintah maupun masyarakat luas.
Dalam menjalankan usahanya, Lembaga Seni Budaya Teluk Bone telah mendapatkan dukungan
dan kepercayaan dari berbagai kalangan khususnya masyarakat Kabupaten Bone maupun
Sulawesi Selatan pada umumnya bahkan di tingkat nasional.
Dalam mencapai Visi-Misinya Lembaga Seni Budaya Teluk Bone, senantiasa melakukan upaya-
upaya tanpa pamrih dengan menawarkan jasa kepada masyarakat baik di dalam maupun diluar
kabupaten Bone khususnya di biadang seni dan budaya.
Mengenai keberadaan website Teluk Bone yang baru online pada tanggal 13 November 2007
merupakan bagian dari harapan kami yang tertuang dalam visi-misi organisasi. Semoga website
ini dapat bermamfaat bagi kita semua khususnya saudara-saudaraku yang berdomisili di luar
Kabupaten Bone untuk mengenal lebih jauh negeri sendiri.
VISI : Menjadi Lembaga Seni Budaya Berkualitas dalam bidang pendidikan Seni & Budaya
yang Handal dan kompetitif
MISI : Menjadi sarana pengembangan kepribadian, kreativitas, dan informatif dengan
memberikan pendidikan seni tradisional dan modern untuk mencetak manusia berkualitas

http://www.abbalukengbone.com/images/gambar/potensi.jpg
bkpm pusat.jpg

Flash News


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJRLDSK0xnAi8v17ZGmo97KCPqk-bvw0uqVzCkpgPr5KQMh17rEr01-N3U1bUIZPWwSVJ3UvkiP5bG8D0VNECAHQkwup4SkC73XVCidugXBHSSSkow_c7MzxY7AwVp_qpmGLGmVeOWJk0/s320/Foto344.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJRLDSK0xnAi8v17ZGmo97KCPqk-bvw0uqVzCkpgPr5KQMh17rEr01-N3U1bUIZPWwSVJ3UvkiP5bG8D0VNECAHQkwup4SkC73XVCidugXBHSSSkow_c7MzxY7AwVp_qpmGLGmVeOWJk0/s320/Foto344.jpg

http://www.gmodules.com/ig/images/plus_google.gif
Gadgets powered by Google

Profil Investasi Bone

http://i.scribd.com/public/images/uploaded/31457390/p7GhikDVHpk_tiny.jpeg

Terkini

Terpopuler

Kilas Nilai Budaya Kabupaten Bone

Masyarakat Kabupaten Bone, sebagaimana Masyarakat kabupaten lainnya di Propinsi Sulawesi Selatan pada umumnya, merupakan pemeluk Agama Islam yang taat, kehidupan mereka selalu diwarnai oleh keadaan yang serba Religius. Kondisi ini ditunjukkan dengan banyaknya tempat-tempat ibadah dan Pendidikan Agama Islam.
Sekalipun demikian Penduduk Kabupaten Bone yang mayoritas pemeluk agama Islam, tetapi di kota Watampone juga ada Gereja dalam arti pemeluk agama lain cukup leluasa untuk menunaikan Ibadahnya. Keadaan ini memberikan dampak yang positif terhadap kehidupan keagamaan karena mereka saling hormat menghormati dan menghargai satu dengan lainnya.
Disamping itu peran pemuka agama teruatama para alim ulama sangat dominan dalam kehidupan keagamaan bahkan alim ulama merupakan figur kharismatik yang menjadi panutan masyarakat.
Dibidang pendidikan, sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional maka Pemkab Bone untuk Sektor Pendidikan diarahkan pada upaya peningkatan mutu pendidikan, dalam hal ini diharapkan pula adanya peningkatan relevansi pendidikan serta mempunyai keterkaitan yang sesuai dengan kebutuhan tuntutan.
Oleh karena itu mutu pendidikan selalu ditingkatkan sebagai upaya peningkatann SDM agar menguasai lptek. Peningkatan SDM tersebut mernpunyai nilai strategis karena merupakan prasyarat mutlak bagi Daerah Kabupaten Bone untuk mampu bersaing dalam Era Otonomi Daerah ini.
Sedangkan mengenai pengembangan Kebudayaan Pemkab Bone telah berupaya untuk membina Nilai-nilai Budaya Daerah sebagai unsur Budaya Nasional dengan berdasarkan pada penerapan Nilai-nilai Kepribadian Bangsa.
Dibidang Kesehatan dan Kependudukan Pemkab Bone telah berupaya untuk meningkatkan derajat Kesehatan Masyarakat termasuk keadaan gizi dan menciptakan NKKBS dalam rangka peningkatan kualitas dan taraf hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat. Disamping itu Pemkab Bone telah memperluas pelayanan Kesehatan kepada Masyarakat secara lebih merata kepelosok Desa.
 
 

PESONA KOMODITI UNGGULAN

Pesona Komoditi Unggulan Karena Kita Bisa by gitabugis | KPPM Bone

POTRET KEGIATAN KPPM BONE

TELUK BONE
Jan 26, 2008
Lembaga Seni Budaya Teluk Bone adalah wadah pembinaan Seni, Budaya, dan sumber informasi yang didirikan pada tanggal 13 Agustus 2000. Berbadan hukum pada tahun 2006 dengan Akta Notaris No.3 tanggal 19 Mei 2006. Dengan tujuan memberikan sumbangan kepada pembangunan menuju tercapainya masyarakat Indonesia yang adil makmur melalui pelestarian, pengembangan, dan pengkajian nilai-nilai sosial seni budaya yang luhur yang dijiwai Pancasila.

Mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai seni budaya yang luhur berarti menjalankan usaha dengan memelihara nilai-nilai luhur seiring perkembangan teknologi sebagai bagian yang tak terpisahkan. Dengan secara adil memperhatikan semua pihak yang berkepentingan antara lain pemilik modal, karyawan, konsumen , pemerintah, dan masyarakat luas.

Dalam menjalankan usahanya, Lembaga Seni Budaya Teluk Bone telah mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari berbagai kalangan khususnya masyarakat Kabupaten Bone maupun Sulawesi Selatan pada umumnya bahkan di tingkat nasional.

Dalam mencapai Visi-Misinya Lembaga Seni Budaya Teluk Bone, telah membuka Pusat Pendidikan dan Latihan (PUSDIKLAT) dengan menawarkan kepada masyarakat kabupaten Bone untuk lebih mengembangkan potensi seni budaya yang dimiliki.

Mengenai keberadaan website Teluk Bone yang baru online pada tanggal 13 November 2007 merupakan bagian dari harapan kami yang tertuang dalam visi-misi organisasi; Semoga website ini dapat bermamfaat bagi kita semua khususnya saudara-saudaraku yang berdomisili di luar Kabupaten Bone untuk mengenal lebih jauh negeri sendiri.

VISI : Menjadi Lembaga Seni Budaya Berkualitas dalam bidang pendidikan Seni & Budaya yang Handal dan kompetitif

MISI : Menjadi sarana pengembangan kepribadian, kreativitas, dan informatif dengan memberikan pendidikan seni tradisional dan modern untuk mencetak manusia berkualitas


Kontak Kami
Nama : Mursalim, S.Pd., M.Si.
Alamat: Jln. Sungai Musi BTN Timurama 2 Watampone
Organisasi : Lembaga Seni Budaya Teluk Bone
Mobile : 081 342 081 372
Telpon : (0481) 25893
(0481) 24777
Faximile : 0481-25893
Email : gitabone@yahoo.co.id
Website : http://www.telukbone.org
Blog : http://www.telukbone.blogspot.com
Multiply : http://www.telukbone.multiply.com
Wordpress : http://www.telukbone.wordpress.com
Tahun Damai
HOME
Worong Porong
PDF
Cetak
E-mail

PERANAN SIRI SEBAGAI BUDAYA PERKETAT KERUKUNAN BONE
MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT BONE
Oleh H.Andi Abd. Rahman Nusu, S.Pd.
Anggota Tim Pakar Budaya Bone
            Semua bangsa yang sedang membangun tidak hanya mengarahkan tujuan kehidupannya pada kesempurnaan dibidang material, akan tetapi juga kepentingan rohaninya yaitu harkat dan martabat, harga diri atau siri. Bagi orang Bone, siri itulah memberi roch penggerak yang kuat untukbersedia hidup, berkorban dan mati demi Bone tercinta. Untuk memahami siri sebagai potensi dari aspek budaya Bone, kita perlu bercermin pada sejarah kebesaran Bone masa lalu, untuk dijadikan pedoman berkarya masa kini menuju masa depan Bone yang cerah gemilang.
INDIKATOR SIRI SEBAGAI VARIABEL POTENSI BUDAYA BONE
YANG AKAN DIKAJI (DIUKUR)

A.  ORANG BONE BERSEDIA HIDUP
Sikap hidup orang Bone warisan moral leluhur yang perlu dikaji :
1.    Dinamis aktif tumbuh berkembang, ulet, tangguh, tekun, berusaha, rajin bekerja, haram surut mundur pantang sebelum pulau idaman tercapai. Materi perlu namun harga diri diatas segalanya. Barang siapa yang malas, akan bodoh dan miskin akan terjerumus ke lembah budak atau ata. Prinsip hidup leluhur atau To Riolo, untuk tidak menjadi budak atau ata, harus rajin bekerja.
Dipesan dalam bahasa Bugis sebagai berikut :
MUCAU RESOKA   (kau ungguli saya dalam usaha)
MUCAU ANREKA   (kau ungguli saya dalam rejeki)
MUCAU ANREKA   (kau ungguli saya dalam rejeki)
MUPUATAKA          (kau akan perintah perbudak saya)
2.    Orang Bone merasa senasib, sependeritaan, dan saling kasih mengasihi antara sesame dalam hidup ini (SI ANRASA RASANG NA SIAMASE MASEI). Ini adalah perekat kerukunan.
3.    Orang Bone hidup saling mengembirakan,. Ia turut merasakan dalam suka atau duka (SIPAKARIO-RIO). Ini adalah perekat kerukunan.
4.    Orang Bone bersifat sosial pemurah, tidak saling menyayangi harta benda dalam batas-batas yang layak (TENG SICARINNAIYANG WARANGMPARANG ANGKANNA SITINAJAE). Ini adalah perekat kerukunan.
5.    Saling mengingatkan ke hal yang baik (SIPAKAINGE RIGAU MEDECENGNGE). Ini adalah perekat kerukunan.
6.    Saling maaf memaafkan dalam kesalahan. Maaf adalah perhiasan yang paling indah dalam hidup ini,  dan pintu reaeki dari ALLAH (SIADDAMPENGENG PULANAE). Ini adalah perekat kerukunan.
7.    Mangkau melindungi nyawa dan harta benda orang Bone dengan Pengadereng. Tidak tidur matanya mangkau, siang dan malam memikirkan kebaikan Negerinya Bone. Bukan kepentingan dirinya sendiri(NAKKAMASENG-NGI TAU MAEGANA) Ini adalah perekat kerukunan, menarik penggabungan Negara tetangga ke Bone. Tidak boleh ada aniaya dalam pagar adat Bone.
8.    Orang Bone, TO BONE (TOKESSING ALUSU) halus ahlak budi pekertinya (MALEBBII). Ia malu berbuat, bertingkah yang memalukan. Tak ada lagi gunanya hidup, bila rasa malu telah hilang atau ternodai. Ini adalah nilai nominal To Bone yang menarik simpati sehingga banyak teman.
B.  ORANG BONE BERSEDIA BERKORBAN
Telah tumbuh subur cinta kasihku kepada tanah leluhurku, Tanah Bangkal Bone yang keramat, sukar untuk berubah kecuali siput sawah telah bersayap kemudian terbang bagaikan pipit, baru mungkin rasa cintaku kepada Bone akan bergeser ke sudut yang lain. Berkorban apa saja, harta atupun nyawa demi Bone tercinta aku rela. Aku adalah orang Bone patriot, cinta Tanah Air, Abdi Negara, Abdi Bone (ATA MEMENG-NGA RI BONE). Aku bekerja dengan ikhlas bakti demi kebesaran dan kehormatan Bone. Aku tidak memikirkan harta benda apalagi uang, pangkat, atau jabatan. Kalau aku dipanggil baru menyahut, kalau aku disuruh baru memasang kuda-kuda berlutut bertanggungjawab sampai kepinggir langit, malu meninggalkan pekerjaan kalau belum selesai dengan baik. Uang atau harta memang perlu, namun satu yang setia lebih baik dari seribu yang durhaka, karena harga diri atau siri di atas segala-galanya. Wasiat To Riolo mengatakan : TARONA SIABBEBUKENG MANUKKU, SIAKKALOLOKENG ASUKKU, TAROI TELLENG LINOE, NAELO, LLARA PESONAKU RI MASAGALAE (ALLAH TALA), TANREREI ARAJANG MALEBBINA BONE.
Dengan sikap hidup orang bone. Sejati. Terkesan wasiat (TODDO PULI TELLARA, SINGKERU SILARIANG TEDDENG PABBUNGANNA) budaya leluhur (To Riolo) Bone mengatakan dalam bahasa Bugis (REKKUA TAKKALANI MALLEBBA SOMPE-MU MAKKANRE TONI GULING-MU MAUNO NAWUTTU ANGING MASSULILI MAKASSU-ASU, TAROI MARETTO PALLAJARENG-MU, MARUNRUNG MARUTTUNG SOMPE-MU, MALEBBIREKKO SABU RI TANGNGA DOLANGENG, NAELO GUNCIRI SORO MAPPOTTANANG, SANGADINNA TABBUTUPI RUPAMMU RI WIRINNA BETARAE).
C.  ORANG BONE BERSEDIA MATI
            Prinsip hidup orang Bone, hanya rasa malu hilang ternodai, maka lebih baik tidur di bawah tanah. Dalam budaya Bugis, leluhur mengajarkan (SIRIMI RIONRONG RI LINO-REKKUA TABBE SIRINI, MALEBBIRENNI RI AWANA TANAE RI ONROI). REKKUA NAPAMMALING-MALINGNI LINO, MABBOKO RI BONE, NATERI WARAMPARANG, AJU TABU’NI ASENGNA, NYAWA NARANRENG SUNGE NAKIRA-KIRA.
            Puang-Ta Arung Palakka mengatakan : ATA MEMENGNGA RI BONE artinya SAYA ADALAH ABDI yakni orang yang bersedia hidup, berkorban, dan mati demi Bone. Ia berjuang memanusiakan orang Bone dan Soppeng dari penjajahan kemanusiaan. Ia berhasil mempersatukan  Budaya Tanah Bugis (Sulawesi Selatan) melalui strategi politik perkawinan. Olehnya itu, tentang Budaya Tanah Bugis. Bone adalah standar (Latoa, 1985 : 6-74)
            Semangat patriot (Cinta Tana Bone) dan heroism (rela berkorban, rela mati, demi Bone) bergelora menyala di dada putra Puang-Ta Lapawawoi Karaeng Sigeri (Mangkau Bone ke-31) yaitu Andi Abd. Hamid Baso Pagilingi, Petta Ponggawae dalam Perang Bone melawan Belanda yang di kenal Rumpa’na Bone 1905. Maka lahirlah Sumpah atau Osong bahasa Bugis ITAWA MAI PONRATU ALLINGERENG MANGKAU’KU, TELLUI SIA KUTODDO PULI TELLARA :
1)      ATA MEMENGNGA RI BONE
2)      TAJAJIANGNGA RI PERI-NYAMENNA BONE
3)      TA ALASIKKA MANGKAU RI TENGNGA PADANG, MEWAI SIPOBALI LAPUTE MATA BALANDAE, PATOKKONGNGI SORONG PESSINNA BONE

4)      REKKO NAPASOROKA LAPUTE MATA BALANDAE RI ALAUNA  LONA, INANG KUPASANGMANENENNI SAMPU PUTE MALLONJO’KU KUPADDENGNGI-I SUNGE’KU MATTEKKA RI PAMMASSARENG.

Osong patriot, herois ini dalam bahasa Indonesia mengatakan :
DARAH BOLEH BERSIMBAH DI PUNGGUNG BUMI TANAH BANGKALA BONE YANG KERAMAT.
NYAWA BOLEH MELAYANG.
TULANG BELULANG BOLEH BERSERAKAN.
LEBIH BAIK MATI BERKALANG TANAH BONE.
DARIPADA HIDUP DI JAJAH (DI POATA) BERCERMIN BANGKAI TO BONE.
(POLO PA, POLO PANNI, MATE RI SANTANGI-KA MABBALU-I ARAJANG MALEBBINA TANA AMMEMANGEKU BONE UPOREN-REANGI-E)
      Bumi berputar, jaman berganti, seirama matahari terbit dari timur terbenam di barat, membuat bunga-bunga mekar kemudian layu dan jatuh. Itulah dinamika dan romantika hidup di dunia, semua dapat berubah. Tetapi semangat Jiwa Patriot, Herois To Bone, Semangat Siri bersedia Hidup, Berkorban, dan mati demi Bone tercinta, pantang, tidak boleh, kualat bila dirobah.
      Olehnya itu kami sebagai generasi Bone penerus perjuangan pembangunan, pembangunan nasional, pembangunan Bone seutuhnya. Harus menggelora di dada Semangat Siri warisan budaya leluhur sebagai cermin dari sejarah kebesaran Bone, untuk dijadikan pedoman menentukan arah tujuan perjuangan pembangunan Bone seutuhnya kedepan, demi kesejahteraan, kemakmuran, keselamatan nyawa dan harta benda rakyat Bone tercinta.
      Tidak boleh ada aniaya dalam pagar adat Bone. Ditolak oleh pengadereng keberadaannya sebagai ata ri Bone. Terkutuk sampai anak cucu. Dalam bahasa leluhur (TO RIOLO BONE) menyatakan PUPURU – KO SAREKAWA MUALLA MAILI MUAKATENI MARUNRUNG TEMMOMPO TEMMACOLLI-KO LATTU RI WIJA-WIJAMMU.

Watampone, 1 November 2006   

ATA LALLINRANG-NGE RI SALIWENG MPANUA
MABBUMPUNG RITANA ALAU
KONAWEI / KENDARI
SULAWESI TENGGARA

Anggota Tim Pakar Aspek Budaya Bone


H. Andi Abd. Rahman Nusu, S.Pd.
Main » Budaya

http://s102.ucoz.net/img/ma/m/i3.gif
http://bp1.blogger.com/_1nyFuwLhtS4/R21MRadxSBI/AAAAAAAAAD4/59mXKAbFG9M/s200/mattompang.jpgUpacara adat yang sakral, yaitu upacara mennsucikan benda-benda pusaka Kerajaan Bone yang disebut “Mappepaccing Arajang” atau dalam istilah pangadereng (adat) disebut “Rilangiri dan secara khusus disebut “Mattompang Arajang” Yang dimaksud dengan Arajang ialah benda atau sekumpulan benda yang sakral karena memiliki nilai magis dan pernah dipergunakan oleh raja atau pembesarkerajaan. Benda-benda tersebut disimpan secara khusus d... selengkapnya »
·      
Category: Budaya | Views: 1771 | Added by: telukbone | Date: 27-Nov-2008 | Comments (22)

Hari Jadi Bone diperingati setiap tanggal 6 April setiap tahunnya. Hal ini berdasarkan Perda Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan ini diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri oleh pakar sejarah dan budayawan Bone. Pada tahun 2007 Bone memperingati hari jadinya ke-677 yang terhitung sejak To Manurung sebagai Raja Bone I (1330).
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam memperingati Hari Jadi Bone diantaranya sebagai berikut :
A.MATTOMPANG ARAJANG
Sifat Kemerdekaan Sebelum Indonesia Mengenal Kata “MERDEKA”
Haspa
| 31 January 2010 | 15:07
Total Read
342
Total Comment
2
Belum ada chart.
Nihil. Permasyhuran Raja untuk menjaga kemerdekaan
Permasyhuran Raja untuk menjaga kemerdekaan
Setelah menposting artikel tentang kemerdekaan dalam sejarah Indonesia yang tidak di Indonesiakan (nasionalkan) , saya kembali melanjutkan tentang butir-butir kemerdekaan sesuai dengan kearifan jaman dulu orang bugis(kearifan orang bugis sekarang menjiplak dan mempelajari budaya lain daripada budaya sendiri)
Butir-butir adek amaradekangeng tersebut teruntai dalam adagium :
“Napoallebirengngi to WajoE, maradekaE, na Malempu, Na Mapaccing ri gau’ salaE, mareso mappalaong, na maparekki ri warang paranna”. 
Diterjemahkan (oleh penulis) :
Orang Wajo lebih memilih kebebasan, jujur, bersih dari prilaku buruk, ulet bekerja, dan hemat.
Perjanjian di Lapaddeppa (sekarang Lapaduppa, penulis) tersebut diprakarsai oleh Arung Saotanre yang bergelar Arung Bettengpola, salah satu …. (negara bagian) Kerajaan Wajo selain Talotenreng dan Tua. Sepanjang masa pengabdiannya, sedikitnya 5 kali (setiap kali terjadi kekosongan pemerintahan) beliau ditawari bahkan ditekan oleh dewan adat menjadi Arung Matowa Wajo, tapi selalu ditolaknya, karena tidak mau menghianati isi perjanjian Mallamungpatue ri Lapadeppa.
Pesan Lataddampare Puang Rimaggalatung, Arung Matoa Wajo IV (1491-1521)
La Taddampare Puang Rimaggalatung, adalah salah satu cendikiawan hebat yang dimiliki oleh Kerajaan Wajo, sama dengan La Tiringen To Taba, beliau juga berkali-kali menolak untuk menjadi Arung Matoa Wajo, namun setelah berkali-kali didesak oleh dewan adapt, akhirnya pada tahun 1491 beliau dilantik menjadi Arung Matoa Wajo IV. Sumber lain mencatat, Puang Rimaggalatung sempat dua kali menjabat sebagai Arung Matoa Wajo yakni pada tahun 1482-1487, dan menjabat kembali pada tahun 1491-1521, sayangnya penulis belum menemukan catatan tentang latar belakang dari peristiwa tersebut.
Setelah mendapatkan persetujuan dewan adat, Puang Ri Maggalatung menetapkan Hukum adat seperti berikut :
1. Harta benda orang Wajo tidak boleh dirampas.
2. Orang Wajo tidak boleh ditangkap, jika tidak terbukti kesalahannya.
3. Orang Wajo tidak boleh dihukum, jika tidak terbukti melakukan kejahatan, apalagi jika tidak mempunyai kesalahan.
4. Barang-barang atau orang-orang yang serumah dengan mereka, tidak boleh dirampas atau ditangkap, jika mereka tidak sekongkol atau seniat dengan mereka.
5. Siapa saja yang menggali lubang, maka dialah yang harus mengisinya, tidak boleh orang lain. (berani berbuat, berani bertanggung jawab, pen)
6. Orang Wajo tidak diperkenankan menyita barang orang lain, kecuali telah ada keputusan Pengadilan Adat.
7. Orang Wajo tidak diperkenankan saling menanami sawah atau kebun orang lain. (Tidak boleh mengusai tanah orang lain, pen)
8. Tidak saling memfitnah dalam hal terjadi pencurian.
9. Walaupun seorang Putra Mahkota, mengenali suatu barang miliknya yang ada ditangan orang lain, ia tidak boleh langsung mengambilnya tanpa ada keputusan Pemangku adat.
10. Orang Wajo tidak boleh saling memfitnah
11. Orang Wajo tidak boleh menyatakan sesuatu ada, padahal tidak ada.
12. Orang Wajo harus saling percaya dan bersaksi pada Tuhan Yang Maha Esa.
Butir-butir adek amaradekangeng tersebut teruntai dalam adagium :
“Maradeka to Wajo’e najajian alena maradeka, tanaEmi ata, naia tau makketanae maradeka maneng, ade’ assimaturusengnami napopuang” 
Diterjemahkan (oleh penulis) :
Orang Wajo merdeka, dan terlahir dalam kondisi sudah merdeka, hanya tanahlah yang menjadi abdi, setiap mereka yang hidup diatas tanah Wajo memiliki hak kemerdekaan, dan hanya adat turun-temurun yang telah disepakatilah yang dijadikan pengikat.
Mengulang ungkapan dari Puangnge Ri Timpengeng, La Taddampare Puang Rimaggalatung menambahkan asas kemerdekaan orang Wajo dengan bunyi;
“RI LALENG TAMPU’ MUPI NAMARADEKA TO WAJO’E”.
Diterjemahkan (oleh penulis) :
Bahkan sejak dalam kandungan, sudah merdekalah orang Wajo
Dalam versi lain, adapula ungkapan yang berbunyi; ”Maradeka To WajoeE, najiajian alena maradeka, napoada adanna, napobbicara bicaranna, napogau gau’na, ade’ assimaturusengnami napopuang”
Diterjemahkan (oleh penulis) :
Merdeka orang Wajo, terlahir dalam kondisi sudah merdeka, mereka bebas mengutarakan pendapat, bebas berbicara, bebas berekspresi, dan hanya adatlah yang mengikat mereka.
Kesemua adagium atau ungkapan kemerdekaan tersebut, kemudian dirumuskan oleh Prof. Mr. DR. H. Andi Zaenal Abidin Farid, sebagai berikut :
ADE’ ASSIMARADEKANGENGNA TO WAJOE
Maradeka To WajoE, najajiang alena maradeka, tanaemi ata, naia tomakketanae maradeka manengngi, ade assamaturusengnami napopuang.
Naia riasengnge maradeka, laje’ tenriatteangngi, lao maniang, lao manoran, lao alau, lao orai’. Mangnganga tange’na Wajo nassu’ ajenamato mpawai massu’.
Mallaja-laja tange’na Wajo nauttama, ajenamato pattamai.
Mallekku tenri pakke’de, tenrirappa, tenrireppung, tenrisampoate’, tenripateppai elo arung mangkau’. Naia pali’na Wajo ri to WajoE teppuppu, tenripinra, tenripaleangi.
Namua naware’ rikoangngi, naiamua napopali, nakkalukkukengngi nalao.
Namua nacappa loli risampakengngi natania napapoli nalajerengngi iarega naoppokengngi, apa ia palina Wajo ri to WajoE, pangaja.
Naia pa’bunona, pakkatuo. Apa ia to WajoE, tempeddingi riuno sangadinna gau’na mpunoi.Temppeddingtoi risalang bicaranna sangadinna gauna memeng, tutunna memeng pasalai. Tenriampa’i ri ada-adanna, iakia naita alena, naissengtoi alena.
Tennapasalaleng ammaradekangenna temppeditoi riatteang mapada eko padana maradeka. Naripatammutoi naripakedde mato narekko nattamaiwi Wajo bali, iaregga engka bicaranna teppura napuraparosokkang balie purapi repettui bicaranna nalajepaimeng nallekku paimeng. Mabbojo-wajo macekkemi to WajoE ri Wajo.
Diterjemahkan oleh Penulis :
Orang Wajo merdeka, dan terlahir dalam kondisi sudah merdeka, hanya tanahlah yang menjadi abdi, setiap mereka yang hidup diatas tanah Wajo memiliki hak kemerdekaan, dan hanya adat turun-temurun yang telah disepakatilah yang dijadikan pengikat.
Merdeka bagi orang adalah, ia bebas pergi kemana ia suka, ia bebas bermigrasi, tidak dilarang ke Selatan, Utara, Timur ataupun Barat. Pintu negeri Wajo terbuka lebar, sehingga mereka bisa meninggalkan Wajo, mereka juga bebas memasuki Wajo kembali sekehendak kaki mereka. Orang Wajo tidak boleh dipaksa, jika mereka tidak mentaati atau tidak melaksanakan sebuah perintah yang tidak ada dasar hukumnya.
Harta benda dan orang-orang yang serumah dengan mereka, tidak boleh dirampas, tidak boleh dikebat, tidak boleh disita, tidak juga ikut dipertanggung jawabkan, jika tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Kehendak Raja tidak boleh dipaksakan dan ditimpakan secara mutlak kepada mereka.
Peraturan, hukuman atau kewajiban yang telah ditetapkan tidak boleh dirubah atau diganti. Namunn, peraturan, hukuman atau kewajiban sekecil dan sebesar apapun, jika tidak memiliki dasar hukum adapt, maka mereka boleh menolaknya. Karena sesungguhnya amar hukum yang berlaku di Wajo adalah nasehat. Adapun ketetapan hukum yang sesungguhya adalah ketetapan hukum pemilik kehidupan, Tuhan Yang Maha Esa. Karena, sesungguhnya orang Wajo tidaklah boleh dibunuh, kecuali ia membunuh dirinya sendiri dengan aib sebagai akibat dari perbuatannya yang tercela. Mereka, tidaklah boleh dituduh persalahkan kecuali sudah terbukti di Pengadilan, bahwa mereka melakukan perbuatan atau perkataan yang tercela.
Orang Wajo tidak boleh dilarang mengeluarkan pendapat, tapi pada diri mereka terikat ketetapan untuk tahu diri dan mengetahui batasan-batasan dari segala pendapatnya. Mereka, tidak diperkenankan menyalahgunakan kemerdekaannya. Mereka dibebaskan melakukan perjanjian atau kerjasama dengan orang merdeka lainnya.
Orang Wajo boleh ditahan ditanah Wajo, atau diperintahkan diluar hukum adat, hanya jika Wajo diserang oleh musuh atau jika mereka memiliki perkara yang belum diselesaikan di Pengadilan. Jika musuh sudah diusir dan perkara mereka sudah diputuskan pengadilan, maka mereka boleh meninggalkan negeri Wajo. Sesungguhnya orang Wajo, hanya akan merasa tentram jika tinggal ditanah Wajo.
Sungguh sebuah kearifan lokal yang sangat maknawi nan adiluhung, sangat bersebrangan dengan kondisi Wajo saat ini. Pemerintah dan Rakyat tidak lagi segendang sepenarian. Bahkan cenderung menggunkan hukum hutan rimba sebagaimana dalam ungkapan bugis kuno sianre bale tauwwe. Budaya sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, kini berubah menjadi sipakatau-tau, sipakalebbi-lebbi, dan sipakalinge-linge. Pesan leluhur untuk saling sirenreseng peru, seperti dalam ungkapan mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge, kini berubah menjadi malii sipareppa-reppa, rebba sipatongko-tongko, malilu sipakalinge-linge.
Sungguh ironis, dalam lambang pemerintah kabupaten Wajo, tertulis jelas semboyang “maradeka to WajoE ade’na napopuang”. Kini, adagium itu tidaklah lebih dari sekedar coretan yang tertimbung endapan dikedalaman dua puluh tujuh (27) Kilo Meter didasar danau Tempe. Mungkin adagium yang layak kita ungkapkan sekarang adalah “maddareke’ to WajoE, matanre siri’mi nade nappau” atau “madoraka to Wajo, Andi’E-na napopuang”. Tapi apapun itu, saya tetap cinta dengan Wajo saya, seperti orang Inggris berkata “Right or wrong is my country”.
—————
Ini salah satu referensi dari Kerajaan Bugis makassar belum lagi dari Bone,gowa,Luwu dan kerajaan lain termasuk ajatappareng yg disusun oleh para Panrita/intelektual dulu yang berkarakter “Mahardika” (cerdas,bijak, murah hati dan bersifat Bangsawan), bukan seperti intelektual sekarang yg menghuni gedung mewa lengkap dasinya yg berkarakter “MAHABENGGO” (Licik,culas,buas,pilih kasih dan bersifat Bangsat-Wan)
Mudah-mudahan tidak termasuk orang “Mahabenggo” termasuk headlines Kompasiana seperti ada sesuatu kelihatan pilih kasih…..yeyyy Cidda bellang lope…
Tidak termasuk ji’ki to Daeng Suryadi La Oddang
Happy end month

MENJAGA ALAM DAN BUDAYA

MARI KITA BERSAMA MEMELIHARA ALAM SEKITAR DAN BUDAYA AGAR TIDAK HILANG
Powered By Blogger
http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png

MENJAGA ALAM DAN BUDAYA INDONESIA

Menjaga Alam dan Budaya Indonesia

Alam Dan Budaya Indonesia memiliki banyak kelebihan dilihat dari segi manapun, seperti dilihat dari segi keindahan, Alam budaya Indonesia sangatlah indah sekali, seperti tanahnya yang subur, alamnya yang indah, alami, dst. Dan juga Budaya di Indonesia mempunyai nilai keindahan yang sangat tinggiseperti budaya tari, reog, nyanyian, dan seterusnya.

Selain itu alam dan budaya Indonesia sangatlah kaya, maksud dari kaya ini adalah Indonesia yang mempunyai bermacam-macam atau beraneka ragam alam dan budaya, seperti almnya yang terdapat sungai, air terjun, danau, gunung/pegunungan, lautan, dst, Dan juga budaya di Indonesia sangatlah kaya akan aneka ragam budaya yang berbeda di setia daerah sepeti budaya di jawa timur berbeda dengan budaya di jawa tengah, jawa barat, madura, sulawesi, papua, Kalimantan, riau, Dan setiap daerah itu pun tidak sama tetapi walaupun di Indonesia mempunyai alam dan budaya yang berbeda – beda disetiap daerah namun Indonesia tetap satu jua.

Beberapa kebudayaan di Indonesia
Wujud kebudayaan daerah di Indonesia
Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap saerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda.

Rumah adat

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEir7HkIRqYiBTWrUF6g9dKo3XQKxW8ymgDyCx9f0qZm-TlAo6Dy2cdoJ1b5UYR8aOaNNIkDC8TbTLbdcyjy3XWMLh7M-F54dzmmBBYKd7NXs9h1bihOPwvAWOScsKfVcHIBQ4Jf0-n-yIE/s320/istana+pagaruyung.jpg
Rumah gadang, rumah adat sumatera barat
Aceh: Rumoh Aceh
Sumatera Barat : Rumah Gadang
Sumatera Selatan : Rumah Limas
Jawa : Joglo
Papua : Honai
Sulawesi Selatan : Tongkonang (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla Lompoa (Makassar Gowa)
Sulawesi Tenggara: Istana buton
Sulawesi Utara: Rumah Panggung
Kalimantan Barat: Rumah Betang
Nusa Tenggara Timur: Lopo

Tarian
Jawa: Bedaya, Kuda Lumping, Reog
Bali: Kecak, Barong/ Barongan, Pendet
Maluku: Cakalele, Orlapei, Katreji
Aceh: Saman, Seudati
Minangkabau: Tari Piring, Tari Payung, Tari Indang, Tari Randai, Tari Lilin
Betawi: Yapong
Sunda: Jaipong, Tari Topeng
Tari jaipong, Tarian daerah Jawa Barat
Timor NTT: Likurai, Bidu, Tebe, Bonet, Pado'a, Rokatenda, Caci
Batak Toba & Suku Simalungun: Tortor
Sulawesi Selatan: Tari Pakkarena, Tarian Anging Mamiri, Tari Padduppa, Tari 4 Etnis
Pesisir Sibolga/Tapteng: Tari Sapu Tangan , Tari Adok , Tari Anak , Tari Pahlawan , Tari Lagu Duo , Tari Perak , Tari Payung
Riau : Persembahan, Zapin, Rentak Bulian, Serampang Dua Belas
Lampung : Bedana, Sembah, Tayuhan, Sigegh, Labu Kayu
Irian Jaya: ( Musyoh, Selamat Datang )

Lagu
Jakarta: Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung
Maluku : Rasa Sayang-sayange, Ayo Mama, Buka Pintu, Burung Tantina,Goro-Gorone, Huhatee
Melayu : Soleram, Tanjung Katung
Minangkabau : Kampuang nan Jauh di Mato, Kambanglah Bungo, Indang Sungai Garinggiang
Aceh : Bungong Jeumpa
Kalimantan Selatan : Ampar-Ampar Pisang
Nusa Tenggara Timur : Anak Kambing Saya, Oras Loro Malirin, Sonbilo, Tebe Onana, Ofalangga, Do Hawu, Bolelebo, Lewo Ro Piring Sina, Bengu Re Le Kaju, Aku Retang, Gaila Ruma Radha, Desaku
Sulawesi Selatan : Angin Mamiri
Sumatera Utara : Anju Ahu, Bungo Bangso, Cikala Le Pongpong, Bungo Bangso, Butet, Dago Inang Sarge,
Papua/Irian Barat : Apuse
Sumatera Barat : Ayam Den Lapeh, Barek Solok, Dayung Palinggam, Kambanglah Bungo, Kampuang Nan Jauh Di Mato, Ka Parak Tingga,
Jambi: Batanghari
Jawa Barat : Bubuy Bulan, Cing Cangkeling, Es Lilin, Karatagan Pahlawan,
Kalimantan Barat : Cik-Cik Periuk
Sumatera Selatan : Cuk Mak Ilang, Dek Sangke, Gending Sriwijaya, Kabile-bile,
Banten : Dayung Sampan
Sulawesi Utara : Esa Mokan
Jawa Tengah : Gambang Suling, Gek Kepriye, Gundul Pacul, Ilir-ilir, Jamuran
Nusa Tenggara Barat : Helele U Ala De Teang
Kalimantan Timur : Indung-Indung
Jambi : Injit-Injit Semut
Kalimantan Tengah : Kalayar
Karatagan Pahlawan (Jawa Barat)
Keraban Sape (Jawa Timur)
Keroncong Kemayoran (Jakarta)
Kole-Kole (Maluku)
Lalan Belek (Bengkulu)
Lembah Alas (Aceh)
Lisoi (Sumatera Utara)
Madekdek Magambiri (Sumatera Utara)
Malam Baiko (Sumatera Barat)
Mande-Mande (Maluku)
Manuk Dadali (Jawa Barat)
Ma Rencong (Sulawesi Selatan)
Mejangeran (Bali)
Mariam Tomong (Sumatera Utara)
Moree (Nusa Tenggara Barat)
Nasonang Dohita Nadua (Sumatera Utara)
O Ina Ni Keke (Sulawesi Utara)
Ole Sioh (Maluku)
Orlen-Orlen (Nusa Tenggara Barat)
O Ulate (Maluku)
Pai Mura Rame (Nusa Tenggara Barat)
Pakarena (Sulawesi Selatan)
Panon Hideung (Jawa Barat)
Paris Barantai (Kalimantan Selatan)
Peia Tawa-Tawa (Sulawesi Tenggara)
Peuyeum Bandung (Jawa Barat)
Pileuleuyan (Jawa Barat)
Pinang Muda (Jambi)
Piso Surit (Aceh)
Pitik Tukung (Yogyakarta)
Flobamora, Potong Bebek Angsa (Nusa Tenggara Timur)
Rambadia (Sumatera Utara)
Rang Talu (Sumatera Barat)
Rasa Sayang-Sayange (Maluku)
Ratu Anom (Bali)
Saputangan Bapuncu Ampat (Kalimantan Selatan)
Sarinande (Maluku)
Selendang Mayang (Jambi)
Sengko-Sengko (Sumatera Utara)
Siboga Tacinto (Sumatera Utara)
Sinanggar Tulo (Sumatera Utara)
Sing Sing So (Sumatera Utara)
Sinom (Yogyakarta)
Si Patokaan (Sulawesi Utara)
Sitara Tillo (Sulawesi Utara)
Soleram (Riau)
Surilang (Jakarta)
Suwe Ora Jamu (Yogyakarta)
Tanduk Majeng (Jawa Timur)
Tanase (Maluku)
Tapian Nauli (Sumatera Utara)
Tari Tanggai (Sumatera Selatan)
Tebe Onana (Nusa Tenggara Barat)
Te Kate Dipanah (Yogyakarta)
Tokecang (Jawa Barat)
Tondok Kadadingku (Sulawesi Tengah)
Tope Gugu (Sulawesi Tengah)
Tumpi Wayu (Kalimantan Tengah)
Tutu Koda (Nusa Tenggara Barat)
Terang Bulan (Jakarta)
Yamko Rambe Yamko (Papua)
Bapak Pucung (Jawa Tengah)
Yen Ing Tawang Ono Lintang (Jawa Tengah)
Stasiun Balapan, Didi Kempot (Jawa Tengah)
Anging Mamiri, Sulawesi Parasanganta (Sulawesi Selatan)
bulu londong, malluya, io-io, ma'pararuk (Sulawesi Barat)

Musik
Jakarta: Keroncong Tugu.
Maluku :
Melayu : Hadrah, Makyong, Ronggeng

Makassar : Gandrang Bulo, Sinrilik
Pesisir Sibolga/Tapteng : Sikambang
Alat musik
GAMELAN
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEib6Abl9Mxb1VEoOcwouYHqP5fXcDIy9m4PPIdIiA7GJdZdbTeYsR0gteywVO7DdGCCBf9hfSVUOe9v_PiihBB1vCtNcDXaMm32wOPz9ynv6Mt3O0bl_FjRkNiFt4ylRUeiQvnzdXUZKeM/s320/2007-07-0762-gamelan2.jpg






Jawa: Gamelan.
Nusa Tenggara Timur: Sasando, Gong dan Tambur, Juk Dawan, Gitar Lio.
Gendang Bali
Gendang Karo
Gendang Melayu
Gandang Tabuik
Sasando
Talempong
Tifa
Saluang
Rebana
Bende
Kenong
Keroncong
Serunai
Jidor
Suling Lembang
Suling Sunda
Dermenan
Saron
Kecapi
Bonang
Kendang Jawa
Angklung
Calung
Kulintang
Gong Kemada
Gong Lambus
Rebab
Tanggetong
Gondang Batak
Kecapi, kesok-Kesok Bugis-makassar, dan sebagainya
Jawa: Wayang.
Tortor: Batak

Sanrego Berkhasiat Perkasa Kuda Jantan
Andi Harianto
| 28 December 2010 | 20:33
Total Read
437
Total Comment
90
http://stat.ks.kidsklik.com/statics/u/stats/chart_329360_1838242883.png
6 dari 12 Kompasianer menilai Bermanfaat.
12935410671158014746
Kemasan jamu dan pohon Sanrego
Citra viagra, yang ditemukan Ferid Murad Farmakolog Amerika Serikat ini, tentu sebagian besar dari kita sudah mengenalnya. Pil biru viagra yang berbentuk wajik, berfungsi mekanik pengendalian pembuluh darah dalam terapi disfungsi ereksi. Karena sex telah inheren dengan hidup manusia, jadilah iming-iming keperkasaan terus diburu. Termasuk mengintip ramuan mistis Mak Erot. Membesarkan yang kecil.
Sebenarnya banyak disekitar kita yang berfungsi sama dengan viagra, seperti kulit pohon Akway dari pegunungan Arfak Monokwari. Seorang teman yang pernah berkunjung ke Papua bercerita, bahwa rahasia Obahorok kepala suku Dani Papua, melayani 40 istrinya, plus 1 istri bulenya dari Amerika ini - karena akway. IPB telah meneliti, bahwa akway atau drymis Sp, berkandungan bahan aktif afrodisiak untuk menggenjot syahwat.
Berangkat dari istri Obahorok yang berjumlah 41 itu, kini saya ingin bercerita tentang Sanrego, yang sebenarnya adalah nama desa yang terletak di Kecamatan Kahu, letaknya sekitar 115 kilometer dari Kota Watampone, atau sekitar 15 kilometer dari Palattae, ibu kota Kahu. Di desa ini, keluarga saya pernah bermukim 11 tahun, mengikuti Ayah yang seorang PNS, petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana. Di desa inilah saya tamat Sekolah Dasar.
Sewaktu kecil, saya tidak pernah mendengar tentang khasiat kayu Sanrego, yang ternyata berasal dari mitos kuda jantan yang digelari Bolong Sanrego. Kuda ini, memiliki betina 41 ekor. Sama dengan jumlah istri Obahorok. Menurut cerita, kayu Sanrego pertama kali ditemukan oleh kuda Arung Sanrego. Kuda jantan ini, secara tidak sengaja menggigit sebatang pohon yang menancap di atas batu bersusun dua. Apa yang terjadi?
Seketika itu juga, kejantanan Bolong Sanrego “berontak”. Secara kebetulan, di sekitar lokasi juga sedang merumput 41 ekor kuda betina. Maka, Bolong Sanrego pun melampiaskan birahinya dengan menggilir ke-41 kuda betina tadi. Tingkah Bolong Sanrego tidak lepas dari perhatian Arung Sanrego. Tak ingin penasaran, Arung Sanrego pun mencungkil sebagian batang kayu tersebut dan membawanya pulang. Saat tiba di rumah, Arung Sanrego merendam di air cungkilan kayu itu. Saat air itu diminumkan ke kucing, sang kucing langsung birahi. Demikian pula saat diminumkan ke seekor anjing.
Kisah di atas, di reportase Aswad Syam dari Fajar Online yang telah mewawancarai Andi Patawari, seorang tokoh masyarakat, generasi kelima keturunan Arung Sanrego. Arung sendiri adalah gelaran bagi pemimpin wilayah (raja) di Kabupaten Bone, Sulsel. Dikisahkan selanjutnya, Arung Sanrego kemudian memberikan kayu itu ke anaknya, Bangkung Petta Tareng. Menurut Patawari, Bangkung Petta Tareng, juga memiliki 41 istri, dan setiap istrinya dikarunai seorang anak, kecuali istri pertamanya. Bahkan diceritakan, sewaktu Petta Tareng ini meninggal, ‘alatnya’ masih kokoh berdiri. Luar biasa.
Dalam versi lain, yang juga saya rada-rada percaya, ramuan kayu sanrego ini berangkat dari cerita Seorang petani di Desa Sanrego yang tengah mengembalakan kuda. Pada mulanya petani tersebut menambatkan kudanya di semak-semak secara kebetulan kuda ini memakan kayu salah satu tanaman. Sejam kemudian kudanya menjadi agresif.
Oh…., ternyata ada daun berukuran besar, panjang sekitar 30 cm dan lebar 15 cm, dimakan kuda tadi. Tumbuhan yang berdaun mirip jantung ini mencolok diantara semak belukar. Tumbuh istimewa, karena akarnya mencengkram kuat, pada batu bersusun dua.
Si pengembala semakin penasaran, kuda jantan itu tidak puas hanya dengan satu betina. Beberapa ekor menjadi pemuas birahinya. Padahal, dalam menjalankan aksinya setiap betina di dobel berkali-kali. Petani itu lalu mengambil dan mencoba meminum air rebusannya. Apa yang terjadi, Ia mengalami kekuatan yang luar biasa, seperti kuda jantan tersebut. Kemudian atas musyawarah masyarakat desa, kayu tersebut diberi nama kayu SANREGO
Percaya atau tidak, yang pasti di tahun 1994 – 1997, Laboratorium Farmasi Fakultas MIPA UNHAS oleh Prof. Dr. H. Muhsin Darise, M.Sc dan rekan - rekannya selanjutnya memproduksi kayu sanrego ini, menjadi Jamu dengan bentuk serbuk. Dikemas dalam alumunium foil, dan telah telah mendapat izin Depkes TR : 993 298 161, dan Deperindag untuk dipasarkan. Prof. Muhsin dalam meneliti dibantu oleh ahli Fitokimia dari Philipina.
Saat kuliah di Unhas, barulah saya mengenal dengan baik kahasiat kayu Sanrego ini, padahal saya pernah bermukim di sekitar pohon ini tumbuh. Kayu Sanrego ternyata berfungsi sebagai herbal untuk menambah vitalitas pria. Sanrego dalam latinnya, bernama Lunasia Amara. Namanya cantik, mirip seperti nama depan Luna Maya. Kalau boleh ngaco, saya persepsikan sanrego ini seperti amarah Luna. Luna marah-marah. Entah marahnya karena apa!?
Bantaeng, 28 Desember 2010
Sumber gambar dalam desain; Di SINI, di SINI dan di SINI

Khasiat Kayu Sanrego Menurut Ilmuwan Dalam dan Luar Negeri

Sanrego HerbalKhasiat Sanrego/
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbCn0tC7tIemUXSYtZSXW_4kzF6l_FmuLnRn4mto7wOJCDhRlVVw1vG0ftz9Vk0KLKJB5Lt3ao7CU-vTT22U6HI34txIYBnwtayS3fjLBN6L21rS2QbxovSwlBLs1RhK6cZ4x0LtIiwlhg/s320/teko+2.jpg"Prof. Dr. H. Muhsin Darise, M.Sc, Guru Besar Farmasi UNHAS sampai mengorbankan biaya untuk menelitinya. Beberapa ilmuwan yang juga meneliti L. Amara diantaranya : Ludvina S. De Padua dari Filipina, Linda S dan Mimi D. dai dari UNHAS, serta Nurbita peneliti dari Universitas Pancasakti.

Berawal dari penelitian terhadap kayu L. Amara* mulai tahun 1994 - 1997 di Laboratorium Farmasi Fakultas MIPA UNHAS oleh Prof. Dr. H. Muhsin Darise, M.Sc dan rekan - rekannya.
Saking yakinnya Prof. Dr. H. Muhsin Darise, M.Sc yang merupakan lulusan S1 ITB tahun 1974, S2 dan S3 Hirosima University Jepang dalam bidang farmasi tahun 1981 dan 1985 mengatakan "Saya jamin kehebatan kayu L. Amara* meningkatkan gairah seks laki-laki".

*Maksudnya adalah Lunasia Amara blanco, nama latin dari sanrego.


----------------------------------------------------------------------
* Kayu sanrego (lunasia amara blancho), Jenis kayu yang banyak ditemukan di kawasan timur Indonesia. Kayu ini memiliki khasiat sebagai obat kuat khusus pria dan untuk pengobatan penyakit gula/diabetes. Secara tradisional batang kayu ini memberikan efek menaikkan gairah seksual, mengobati penyakit malaria, diabetes dan gigitan ular.
* Kandungan kayu sanrego ini telah diteliti oleh pakar fitokimia dari pengajar jurusan farmasi Fakultas MIPA UNHAS bekerja sama dengan ahli Fitokimia dari Philipina, batang kayu ini mengandung alkolid, sitosterol, glikosida. Kandungan kayu ini tidak toksis namun ekstrak metanol dan normal butanolnya dapat menghambat bakteri E. coli, Shigella body, staphylococcus aurcus.
* Khasiat kayu sanrego ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang petani di desa Sanrego kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Pada mulanya petani tersebut menambatkan kudanya di semak-semak secara kebetulan kuda ini memakan kayu salah satu tanaman dan sejam kemudian kudanyamenjadi agresif. Petani itu lalu mengambil lalu mencoba meminum air rebusannya dan mengalami kekuatan yang luar biasa seperti kuda jantan tersebut. Kemudian atas musyawarah masyarakat desa, kayu tersebut diberi nama kayu SANREGO.

Melacak “Jejak” Sanrego, Kayu Penguat Stamina dari Bone

Sanrego HerbalKhasiat SanregoMengenal Sanrego/
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHM_1_Ah9Kf7_MCpXVXiwc9yRtzgdxxejbYCxG-EPomHS6PcpnCk0QL208Q3R50Z0CSYCW0p67oEOi28aGm5OIg5gYjE85QwXeEDPBB2Ta-c1s9drmpPfRMeCe8kL16dXoWkey-z203pJy/s320/1216826890picb.jpgTemuan Kuda Jantan, Dikenal hingga ke India
Laporan: Aswad Syam, Bone

SANREGO sudah tidak asing lagi bagi warga Bone. Kayu yang diyakini memiliki “kedahsyatan” meningkatkan vitalitas pria, sudah lama menjadi buruan berbagai kalangan. Bagaimana awalnya hingga Sanrego terkenal ke seantero tanah air?
ASAP sesekali mengepul dari mulutnya saat menjawab setiap pertanyaan penulis.

Malah, ketika mulai menceritakan kisah penemuan kayu Sanrego, lelaki yang sudah berusia senja ini, tidak memedulikan lagi rokoknya yang sudah di ujung jarinya. Itulah Andi Patawari, generasi kelima keturunan Arung Sanrego.

Ditemui di rumahnya di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu, Patawari berkisah bahwa kayu Sanrego pertama kali ditemukan oleh kuda Arung Sanrego. Kuda jantan yang digelari “Bolong Sanrego” tersebut, secara tidak sengaja menggigit sebatang pohon yang menancap di atas batu.

Seketika itu juga, kejantanan Bolong Sanrego “berontak”. Secara kebetulan di sekitar lokasi juga sedang merumput 41 ekor sapi betina. Maka, Bolong Sanrego pun melampiaskan birahinya dengan menggilir ke-41 sapi betina tadi.

Tingkah Bolong Sanrego tidak lepas dari perhatian Arung Sanrego. Tak ingin penasaran, Arung Sanrego pun mencungkil sebagian batang kayu tersebut dan membawanya pulang.

Saat tiba di rumah, Arung Sanrego mengambil cungkilan kayu itu dan merendam di air. Saat air itu diminumkan ke kucing, sang kucing langsung birahi. Demikian pula saat diminumkan ke seekor anjing.

Arung Sanrego kemudian memberikan kayu itu ke anaknya, Bangkung Petta Tareng. Menurut Patawari, Bangkung Petta Tareng, juga memiliki 41 istri, dan setiap istrinya dikarunai seorang anak, kecuali istri pertamanya.

Patawari kembali berkisah, Bangkung Petta Tareng kemudian bersumpah kalau dirinya tak akan dikubur sebelum sempat memberi keturunan kepada istri pertamanya. Saat wafat, Bangkung Petta Tareng kemudian dimandikan dan siap-siap dikafani.

Namun, keajaiban terjadi. Alat vitalnya tiba-tiba “bangun”. Orang sekampung kemudian menggantung kelambu dan menyilakan permaisuri masuk. Usai menjalankan hajatnya, permaisuri kemudian keluar. Orang sekampung menyaksikan alat vital Bangkung Petta Tareng kembali “tidur”.

“Permaisuri kemudian benar-benar hamil. Sembilan bulan kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama I Ladica Puang Makuasa,” tutur Patawari sambil membuang puntung rokoknya di asbak.

Patawari sendiri mengaku belum pernah melihat wujud asli kayu yang bernama Sanrego tersebut. Tapi yang jelas kata dia, kayu tersebut tumbuh di perbukitan tempat Arung Sanrego biasa memberi makan kudanya. Kayu tersebut lanjut Patawari, biasanya tumbuh dan berakar kuat di batu.

Diburu Orang India

Benar atau tidaknya cerita Patawari, hanya waktu jua yang akan membuktikannya. Tapi satu yang pasti, “kedahsyatan” kayu Sanrego yang dapat membuat lelaki perkasa di tempat tidur, sudah benar-benar terkenal ke seantero jagat. Tidak heran jika bukan hanya orang Jakarta yang datang mencarinya, melainkan juga dari India.

Padahal menurut Patawari, khasiat kayu tersebut bukan hanya untuk hubungan badan, tapi juga untuk bekerja. “Banyak orang yang meminum hasil rendaman kayu tersebut, kemudian dicampur es, sebelum turun ke sawah. Katanya, mereka jadi lebih kuat mencangkul,” ujar Patawari.

Awaluddin, putra Andi Patawari yang menemani penulis ke pusat tumbuhnya Sanrego, mengungkapkan bahwa banyak orang dari luar Sulsel yang pernah datang ke kampungnya untuk mencari kayu Sanrego tersebut. Orang-orang tersebut berasal dari Jakarta, Surabaya, bahkan ada yang datang khusus dari India.

“Kami tidak menjual kayu ini. Kami hanya meminta kepada mereka, agar kayu ini mujarab, sebaiknya menukar dengan pembeli ayam pada malam Jumat,” ungkap Awaluddin.

Sanrego sendiri sebenarnya nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kahu, letaknya sekitar 115 kilometer dari Kota Watampone, atau sekitar 15 kilometer dari Palattae, ibu kota Kahu. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Tompong Patu.

Andi Patawari, tokoh masyarakat setempat mengatakan, Sanrego berasal dari kata sanreseng menre ri Gowa. Pada saat itu kata Patawari, Gowa masih menancapkan kuku kekuasaannya di Tana Bone, sehingga raja yang ditempatkan di Bone, harus selalu menghadap ke kerajaan Gowa. Dan, penghadapan raja baru sah apabila disertai Arung Sanrego.

Kayu Sanrego, tumbuh di atas batu yang bersusun dua, penduduk setempat menyebutnya batu sitoppoe. Lokasi ini berada sekitar lima kilometer dari jalan poros desa, tepatnya di perbatasan Sanrego Kecamatan Kahu dengan Desa Lamoncong Kecamatan Bontocani.

Untuk mencapai lokasi ini, harus menempuh medan berat. Di musim hujan, daerah ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Menggunakan sepeda motor juga memungkinakan. Cuma, harus ekstra hati-hati karena jalanannya sangat licin.

Setelah itu, motor harus diparkir, karena harus melewati sebuah sungai. Selanjutnya, perjalanan mesti dilakukan dengan jalan kaki karena tanjakannya cukup panjang, sekira 300 meter. Dari seberang sungai, dua buah batu bersusun yang di atasnya ditumbuhi tanaman rimbun, sudah terlihat.

Kepada penulis, Awaluddin menunjukkan bahwa kayu itulah yang dimaksud dalam kisah “Bolong Sanrego”. Pohon kayu tersebut hampir sama dengan tananaman perdu lainnya yang tumbuh liar. Hanya saja, tanaman ini punya keistimewaan, karena akarnya mencengkram kuat batu bersusun dua tersebut. Di bagian batangnya, ada bekas parang.

Warga setempat memberitahu, kalau seluruh kayu di Sanrego punya khasiat. Namun, kayu tersebut harus diberikan langsung keturunan Arung Sanrego.

Pernah ada kejadian unik. Tiang rumah Andi Patawari yang berwarna hitam, dicungkil pisau. “Mungkin pencungkilnya mengira bahwa tiang rumah saya itu terbuat dari kayu Sanrego,” ungkap Patawari sambil memperlihatkan bekas cungkilan pisau di tiang rumahnya. (*)

Source: Fajar Online

Berkhasiat Mengobati Gangguan Sexual (impotensi, lemah Syahwat, Kurang Bergairah)

Sanrego HerbalKhasiat Sanrego/
[Kutipan Artikel Dari Majalah TRUBUS]
Sudirman akhirnya meluluskan gugatan cerai sang istri. Apa boleh buat, selama 5 tahun mengarungi bahtera rumah tangga ia tak bisa memberikan “nafkah” batin. Impotensi menyerang pada minggu pertama perkawinan. Belakangan ia sudah nikah lagi menyusul anjuran kakaknya meminum serbuk sanrego.

Tadinya Sudirman (nama samaran) hampir putus asa. Bagaimana tidak, sewaktu masih pacaran mendambakan anak dari kekasih yang sangat dicintainya. Tahunya, jangankan keturunan, hari-hari penuh kemesraan malah seakan jadi neraka. Beruntung saudara-saudaranya selalu menasehati dan membesarkan hati termasuk mendukung pendanaan untuk pengobatan kemana pun ia mau. Maklum lelaki asli Bone Sulalwesi Selatan ini hanya bekerja sebagai pegawai negeri. Mulai dari dokter spesialis hingga dukun nun jauh disana tak terlewatkan didatangi. Namun usahanya tak membuahkan hasil hingga keputusan cerai diambil.

Jalannya memang ada-ada saja. Seorang petani di Desa Sanrego Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tengah mengembalakan kuda.
Daerah ini memang tercatat sebagai sentra kuda. Kuda kuda bagus untuk pacu kebanyakan di datangkan dari sini. Jadi tak heran bila dalam pengembalaan ada puluhan kuda yang harus diawasi. Jantan dan betina dicampur, karena kalaupun terjadi birahi dan saling kawin tak saling membahayakan. Namun pengalaman belasan tahun nyaris tak ditemukan kuda kawin di padang penggembalaan. Sehingga ketika terlihat ada kuda jantan agresif, mengejar dan menaiki kuda betina, timbul pertanyaan dalam benak si penggembala.

Oh...., ternyata ada daun berukuran besar, panjang sekitar 30 cm dan lebar 15 cm, dimakan kuda tadi. Tumbuhan yang berdaun mirip jantung ini mencolok diantara semak belukar. Si pengembala semakin penasaran, kuda jantan itu tidak puas hanya dengan satu betina. Beberapa ekor menjadi pemuas nafsu birahinya. Padahal, dalam menjalankan aksinya setiap betina dinaiki berkali-kali.
Itung – itung sebagai kelinci percobaan si pengembala mencoba merebus batang kayunya. Tentu saja setelah dipotong potong terlebih dahulu. Lalu air rebusannya diminum. Luar biasa, nafsu dan kekuatan si penggembala tak ada bedanya dengan kuda. Kuat tak seperti biasanya.

Informasi berharga inilah yang kemudian dibuktikan oleh Sudirman. Hanya dengan minum seduhan Sanrego 5 gelas berturut turut, Sudirman sudah dikaruniai anak dari istri barunya. Impotensinya sembuh total.

Disebut-sebut bahwa Sanrego potensial menggantikan viagra yaitu obat kuat yang pernah menghebohkan. Viagra sebetulnya adalah obat untuk penderita tekanan darah tinggi, cuma efek sampingnya ereksi jadi lebih lama. Viagra bila dikonsumsi oleh orang normal bisa mengakibatkan kematian karena tekanan darah menjadi tidak normal karenanya. Berbeda dengan viagra, dengan khasiat yang sama Sanrego bersifat alami, relatif lebih aman, dan murah.

Ternyata kisah Sanrego ini tidak hanya diketahui oleh Sudirman dan keluarganya melainkan telah menjadi resep ramuan obat / jamu rahasia keperkasaan - kejantanan pria / laki – laki di wilayah tersebut.

Bila anda berminat untuk mencoba khasiat Jamu Sanrego anda tidak perlu bersusah payah datang ke Sulawesi, kini sudah tersedia Jamu Sanrego dalam bentuk serbuk Sanrego dalam kemasan yang pemakaiannya sangat gampang. Serbuk kayu Sanrego yang berwarna putih kecoklatan diseduh dengan air panas. Dosisnya 1 sendok makan untuk satu gelas besar air. Seduhan diaduk aduk dan didiamkan selama kurang lebih 5 menit. Akan tampak endapan / ampas serbuk di dasar gelas. Tuangkan ke gelas lain sambil disaring supaya endapannya tidak terbawa.

Bagi yang biasa meminum minuman yang agak pahit-pahit bisa langsung meminumnya. Kalau tidak, bisa dicampur dulu dengan kuning telur dan madu. Dianjurkan untuk penyembuhan diminum 3x sehari. Tidak boros karena ampas yang tersisa masih bisa digunakan selama rasa pahitnya belum hilang. (Sumber : TRUBUS).

Berkhasiat Mengobati Gangguan Sexual (impotensi, lemah Syahwat, Kurang Bergairah)

Sanrego HerbalKhasiat Sanrego
[Kutipan Artikel Dari Majalah TRUBUS]
Sudirman akhirnya meluluskan gugatan cerai sang istri. Apa boleh buat, selama 5 tahun mengarungi bahtera rumah tangga ia tak bisa memberikan “nafkah” batin. Impotensi menyerang pada minggu pertama perkawinan. Belakangan ia sudah nikah lagi menyusul anjuran kakaknya meminum serbuk sanrego.

Tadinya Sudirman (nama samaran) hampir putus asa. Bagaimana tidak, sewaktu masih pacaran mendambakan anak dari kekasih yang sangat dicintainya. Tahunya, jangankan keturunan, hari-hari penuh kemesraan malah seakan jadi neraka. Beruntung saudara-saudaranya selalu menasehati dan membesarkan hati termasuk mendukung pendanaan untuk pengobatan kemana pun ia mau. Maklum lelaki asli Bone Sulalwesi Selatan ini hanya bekerja sebagai pegawai negeri. Mulai dari dokter spesialis hingga dukun nun jauh disana tak terlewatkan didatangi. Namun usahanya tak membuahkan hasil hingga keputusan cerai diambil.

Jalannya memang ada-ada saja. Seorang petani di Desa Sanrego Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tengah mengembalakan kuda.
Daerah ini memang tercatat sebagai sentra kuda. Kuda kuda bagus untuk pacu kebanyakan di datangkan dari sini. Jadi tak heran bila dalam pengembalaan ada puluhan kuda yang harus diawasi. Jantan dan betina dicampur, karena kalaupun terjadi birahi dan saling kawin tak saling membahayakan. Namun pengalaman belasan tahun nyaris tak ditemukan kuda kawin di padang penggembalaan. Sehingga ketika terlihat ada kuda jantan agresif, mengejar dan menaiki kuda betina, timbul pertanyaan dalam benak si penggembala.

Oh...., ternyata ada daun berukuran besar, panjang sekitar 30 cm dan lebar 15 cm, dimakan kuda tadi. Tumbuhan yang berdaun mirip jantung ini mencolok diantara semak belukar. Si pengembala semakin penasaran, kuda jantan itu tidak puas hanya dengan satu betina. Beberapa ekor menjadi pemuas nafsu birahinya. Padahal, dalam menjalankan aksinya setiap betina dinaiki berkali-kali.
Itung – itung sebagai kelinci percobaan si pengembala mencoba merebus batang kayunya. Tentu saja setelah dipotong potong terlebih dahulu. Lalu air rebusannya diminum. Luar biasa, nafsu dan kekuatan si penggembala tak ada bedanya dengan kuda. Kuat tak seperti biasanya.

Informasi berharga inilah yang kemudian dibuktikan oleh Sudirman. Hanya dengan minum seduhan Sanrego 5 gelas berturut turut, Sudirman sudah dikaruniai anak dari istri barunya. Impotensinya sembuh total.

Disebut-sebut bahwa Sanrego potensial menggantikan viagra yaitu obat kuat yang pernah menghebohkan. Viagra sebetulnya adalah obat untuk penderita tekanan darah tinggi, cuma efek sampingnya ereksi jadi lebih lama. Viagra bila dikonsumsi oleh orang normal bisa mengakibatkan kematian karena tekanan darah menjadi tidak normal karenanya. Berbeda dengan viagra, dengan khasiat yang sama Sanrego bersifat alami, relatif lebih aman, dan murah.

Ternyata kisah Sanrego ini tidak hanya diketahui oleh Sudirman dan keluarganya melainkan telah menjadi resep ramuan obat / jamu rahasia keperkasaan - kejantanan pria / laki – laki di wilayah tersebut.

Bila anda berminat untuk mencoba khasiat Jamu Sanrego anda tidak perlu bersusah payah datang ke Sulawesi, kini sudah tersedia Jamu Sanrego dalam bentuk serbuk Sanrego dalam kemasan yang pemakaiannya sangat gampang. Serbuk kayu Sanrego yang berwarna putih kecoklatan diseduh dengan air panas. Dosisnya 1 sendok makan untuk satu gelas besar air. Seduhan diaduk aduk dan didiamkan selama kurang lebih 5 menit. Akan tampak endapan / ampas serbuk di dasar gelas. Tuangkan ke gelas lain sambil disaring supaya endapannya tidak terbawa.

Bagi yang biasa meminum minuman yang agak pahit-pahit bisa langsung meminumnya. Kalau tidak, bisa dicampur dulu dengan kuning telur dan madu. Dianjurkan untuk penyembuhan diminum 3x sehari. Tidak boros karena ampas yang tersisa masih bisa digunakan selama rasa pahitnya belum hilang. (Sumber : TRUBUS).
Manfaat Kayu Sanrego (Viagra mah lewat...)

Sekilas tentang Kayu Sanrego

1. Kayu sanrego (lunasia amara blancho), Jenis kayu yang banyak ditemukan di kawasan timur Indonesia. Kayu ini memiliki khasiat sebagai obat kuat khusus pria dan untuk pengobatan penyakit gula/diabetes. Secara tradisional batang kayu ini memberikan efek menaikkan gairah seksual, mengobati penyakit malaria, diabetes dan gigitan ular.

2. Kandungan kayu sanrego ini telah diteliti oleh pakar fitokimia dari pengajar jurusan faemasi Fakultas MIPA UNHAS bekerja sama dengan ahli Fitokimia dari Philipina, batang kayu ini mengandung alkolid, sitosterol, glikosida. Kandungan kayu ini tidak toksis namun ekstrak metanol dan normal butanolnya dapat menghambat bakteri E. coli, Shigella body, staphylococcus aurcus.

3. Khasiat kayu sanrego ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang petani di desa Sanrego kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Pada mulanya petani tersebut menambatkan kudanya di semak-semak secara kebetulan kuda ini memakan kayu salah satu tanaman dan sejam kemudian kudanyamenjadi agresif. Petani itu lalu mengambil lalu mencoba meminum air rebusannya dan mengalami kekuatan yang luar biasa seperti kuda jantan tersebut. Kemudian atas musyawarah masyarakat desa, kayu tersebut diberi nama kayu SANREGO

Sejarah Penemuan Kayu Sanrego

SANREGO sudah tidak asing lagi bagi warga Bone. Kayu yang diyakini memiliki “kedahsyatan” meningkatkan vitalitas pria, sudah lama menjadi buruan berbagai kalangan. Bagaimana awalnya hingga Sanrego terkenal ke seantero tanah air?
ASAP sesekali mengepul dari mulutnya saat menjawab setiap pertanyaan penulis.

Malah, ketika mulai menceritakan kisah penemuan kayu Sanrego, lelaki yang sudah berusia senja ini, tidak memedulikan lagi rokoknya yang sudah di ujung jarinya. Itulah Andi Patawari, generasi kelima keturunan Arung Sanrego.

Ditemui di rumahnya di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu, Patawari berkisah bahwa kayu Sanrego pertama kali ditemukan oleh kuda Arung Sanrego. Kuda jantan yang digelari “Bolong Sanrego” tersebut, secara tidak sengaja menggigit sebatang pohon yang menancap di atas batu.

Seketika itu juga, kejantanan Bolong Sanrego “berontak”. Secara kebetulan di sekitar lokasi juga sedang merumput 41 ekor sapi betina. Maka, Bolong Sanrego pun melampiaskan birahinya dengan menggilir ke-41 sapi betina tadi.

Tingkah Bolong Sanrego tidak lepas dari perhatian Arung Sanrego. Tak ingin penasaran, Arung Sanrego pun mencungkil sebagian batang kayu tersebut dan membawanya pulang.

Saat tiba di rumah, Arung Sanrego mengambil cungkilan kayu itu dan merendam di air. Saat air itu diminumkan ke kucing, sang kucing langsung birahi. Demikian pula saat diminumkan ke seekor anjing.

Arung Sanrego kemudian memberikan kayu itu ke anaknya, Bangkung Petta Tareng. Menurut Patawari, Bangkung Petta Tareng, juga memiliki 41 istri, dan setiap istrinya dikarunai seorang anak, kecuali istri pertamanya.

Patawari kembali berkisah, Bangkung Petta Tareng kemudian bersumpah kalau dirinya tak akan dikubur sebelum sempat memberi keturunan kepada istri pertamanya. Saat wafat, Bangkung Petta Tareng kemudian dimandikan dan siap-siap dikafani.

Namun, keajaiban terjadi. Alat vitalnya tiba-tiba “bangun”. Orang sekampung kemudian menggantung kelambu dan menyilakan permaisuri masuk. Usai menjalankan hajatnya, permaisuri kemudian keluar. Orang sekampung menyaksikan alat vital Bangkung Petta Tareng kembali “tidur”.

“Permaisuri kemudian benar-benar hamil. Sembilan bulan kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama I Ladica Puang Makuasa,” tutur Patawari sambil membuang puntung rokoknya di asbak.

Patawari sendiri mengaku belum pernah melihat wujud asli kayu yang bernama Sanrego tersebut. Tapi yang jelas kata dia, kayu tersebut tumbuh di perbukitan tempat Arung Sanrego biasa memberi makan kudanya. Kayu tersebut lanjut Patawari, biasanya tumbuh dan berakar kuat di batu.

Diburu Orang India

Benar atau tidaknya cerita Patawari, hanya waktu jua yang akan membuktikannya. Tapi satu yang pasti, “kedahsyatan” kayu Sanrego yang dapat membuat lelaki perkasa di tempat tidur, sudah benar-benar terkenal ke seantero jagat. Tidak heran jika bukan hanya orang Jakarta yang datang mencarinya, melainkan juga dari India.

Padahal menurut Patawari, khasiat kayu tersebut bukan hanya untuk hubungan badan, tapi juga untuk bekerja. “Banyak orang yang meminum hasil rendaman kayu tersebut, kemudian dicampur es, sebelum turun ke sawah. Katanya, mereka jadi lebih kuat mencangkul,” ujar Patawari.

Awaluddin, putra Andi Patawari yang menemani penulis ke pusat tumbuhnya Sanrego, mengungkapkan bahwa banyak orang dari luar Sulsel yang pernah datang ke kampungnya untuk mencari kayu Sanrego tersebut. Orang-orang tersebut berasal dari Jakarta, Surabaya, bahkan ada yang datang khusus dari India.

“Kami tidak menjual kayu ini. Kami hanya meminta kepada mereka, agar kayu ini mujarab, sebaiknya menukar dengan pembeli ayam pada malam Jumat,” ungkap Awaluddin.

Sanrego sendiri sebenarnya nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kahu, letaknya sekitar 115 kilometer dari Kota Watampone, atau sekitar 15 kilometer dari Palattae, ibu kota Kahu. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Tompong Patu.

Andi Patawari, tokoh masyarakat setempat mengatakan, Sanrego berasal dari kata sanreseng menre ri Gowa. Pada saat itu kata Patawari, Gowa masih menancapkan kuku kekuasaannya di Tana Bone, sehingga raja yang ditempatkan di Bone, harus selalu menghadap ke kerajaan Gowa. Dan, penghadapan raja baru sah apabila disertai Arung Sanrego.

Kayu Sanrego, tumbuh di atas batu yang bersusun dua, penduduk setempat menyebutnya batu sitoppoe. Lokasi ini berada sekitar lima kilometer dari jalan poros desa, tepatnya di perbatasan Sanrego Kecamatan Kahu dengan Desa Lamoncong Kecamatan Bontocani.

Untuk mencapai lokasi ini, harus menempuh medan berat. Di musim hujan, daerah ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Menggunakan sepeda motor juga memungkinakan. Cuma, harus ekstra hati-hati karena jalanannya sangat licin.

Setelah itu, motor harus diparkir, karena harus melewati sebuah sungai. Selanjutnya, perjalanan mesti dilakukan dengan jalan kaki karena tanjakannya cukup panjang, sekira 300 meter. Dari seberang sungai, dua buah batu bersusun yang di atasnya ditumbuhi tanaman rimbun, sudah terlihat.

Kepada penulis, Awaluddin menunjukkan bahwa kayu itulah yang dimaksud dalam kisah “Bolong Sanrego”. Pohon kayu tersebut hampir sama dengan tananaman perdu lainnya yang tumbuh liar. Hanya saja, tanaman ini punya keistimewaan, karena akarnya mencengkram kuat batu bersusun dua tersebut. Di bagian batangnya, ada bekas parang.

Warga setempat memberitahu, kalau seluruh kayu di Sanrego punya khasiat. Namun, kayu tersebut harus diberikan langsung keturunan Arung Sanrego.

Pernah ada kejadian unik. Tiang rumah Andi Patawari yang berwarna hitam, dicungkil pisau. “Mungkin pencungkilnya mengira bahwa tiang rumah saya itu terbuat dari kayu Sanrego,” ungkap Patawari sambil memperlihatkan bekas cungkilan pisau di tiang rumahnya. (*)

Tata Cara Perkawinan Adat Bone/bugis PERKAWINAN ADAT BONE/BUGIS

Tata Cara Perkawinan Adat Bone/bugis
PERKAWINAN ADAT BONE/BUGIS

A. Pendahuluan

Masyarakat kabupaten Bone, sebagaimana masyarakat kabupaten lainnya di Propinsi Sulawesi Selatan pada umumnya, merupakan pemeluk Islam yang taat, kehidupan mereka selalu diwarnai oleh keadaan yang serba religius. Kondisi ini ditunjukkan oleh banyaknya tempat-tempat ibadah dan Pendidikan Agama Islam.
Sekalipun penduduk Kabupaten Bone mayoritas memeluk agama Islam, namun di kota Watampone juga ada gereja dan beberapa tempat ibadah pemeluk agama lainnya.

Hal ini berarti, pemeluk agama lain cukup leluasa untuk menunaikan ibadahnya. Keadaan ini memberikan dampak yang positif terhadap kehidupan keagamaan, karena mereka saling hormat-menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya. Di samping itu, peran pemuka agama terutama para alim ulama sangat dominan dalam kehidupan keagamaan, bahkan bagi masyarakat Bone, alim ulama merupakan figur kharismatik yang menjadi panutan masyarakat.


Pada sektor pendidikan,pemerintah Kabupeten Bone mengarahkan pembangunan pada upaya peningkatan mutu pendidikan, sehingga tercipta peningkatan relevansi pendidikan, serta mempunyai keterkaitan yang sesuai dengan kebutuhan tuntutan. Oleh karena itu, mutu pendidikan selalu ditingkatkan sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermuara kepada meningkatnya daya saing masyarakat Bone. Adapun mengenai pengembangan kebudayaan, pemerintah Kabupaten Bone berupaya untuk membina nilai-nilai budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional denganberdasarkan pada penerapan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Bone.

Salah satu bentuk kepedulian pemerintah Kabupaten Bone dalam bidang kebudayaan adalah memfasilitasi terbentuknya Lembaga Adat “Saoraja” Bone sebagai mitra pemerintah dalam hal pelestarian nilai-nilai adat dan budaya luhur serta pengembangan kebudayaan.
Dalam masyarakat manapun, hubungan kekerabatan merupakan aspek utama, baik karena dinilai penting oleh anggotanya maupun fungsinya sebagai struktur dasar yang akan suatu tatanan masyarakat. Pengetahuan mebdalam tentang prinsip-prinsip kekerabatan sangat diperlukan guna memahami apa yang mendasari berbagai aspek kehidupan masyarakat yang dianggap paling penting oleh orang Bugis dan yang saling berkaitan dalam membentuk tatanan sosial mereka. Aspek tersebut antara lain adalah perkawinan. Bagi masyarakat Bugis termasuk di dalamnya Bone, perkawinan berarti siala atau saling mengambil satu sama lain, jadi perkawianan merupakan ikatan timbla balik. Walaupun mereka beeasal dari strata sosial yang berbeda, setelah mereka menjadi suami istri mereka merupakan mitra. Selain itu, bagi masyarakat Bugis, perkawinan bukan saja penyatuan dua mempelai semata, akan tetapi merupakan suatu upacara penyatuan dan persekutuan dua keluarga besar yang biasanya telah memiliki hubngan sebelumnya dengan maksud mendekatkan atau mempereratnya (Mappasideppé mabélaé atau mendekatkan yang sudah jauh).

Pemaknaan lain tentang perkawinan, pada buku Sulésana karya Anwar Ibrahim disinggung tentang siabbinéng dari kata biné yang berarti benih padi, “Mabbiné” artinya menanam padi. Terdapat kedekatan makna dan kedekatan bunyi dengan kata “bainé” atau istri “mabbainé” atau beristri. Dalam konteks ini kata siabbinéng, mengandung makna menanam benih dalam kehidupan rumah tangga. (Ibrahim. A, 2002)
Dikalangan masyarakat biasa, perkawinan biasanya berlangsung antar keluarga dekat atau antar kelompok patronasi yang sama (patron klien) sehingga mereka telah saling mengenal satu sama lain. Oleh karena itu, mereka yang berasal dari daerah lain, cenderung menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengan orang telah mereka kenal baik melalui jalur perkawinan. Dengan kata lain perkawinan adalah cara terbaik untuk menjadi (bukan orang lain/ tenniya tau laing).

Hal ini juga sering ditempuh dua sahabat atau mitra usaha yang bersepakat menikahkan turunan mereka, atau bahkan menjodohkan anak mereka sejak kecil. (Pelras . 2006)
Dikalangan masayarakat dikenal ada dua macam perkawinan yaitu perkawinan melalui proses peminangan dan perkawinan yang disebut silariang. Namun yang akan dibahas dalam buku ini adalah perkawinan melalui peminangan. Perkawinan melalui proses peminangan adalah tata cara yang paling baik dan biasanya melalui beberapa tahap. Sejak dahulu sampai kira0kira 30 tahun lalu, tahap demi tahap masih selalu dilakukan, baik oleh golongan bangsawan maupun yang bukan bangsawan. Namun akibat dari perkembangan jaman serta pengaruh-pengaruh asing yang masuk maka terjadi beberapa perubahan, namun kartena masyarakat kita sangat kuat dalam memegang teguh adat, maka kebiasaan ini masih terus berlanjut walaupun disana sini telah disesuaikan dengan keadaan dan waktu. Dan pelaksanaannya pun telah mengalami beberapa perubahan tanpa meninggalkan nilai-nilai dan makna yang terkandung dalam semua tahapan upacara. (Sapada AN, 1985)
why-u7/25/2009 03:41:00 AMhttp://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif
Over 30 million trusted traveler reviews and opinions


http://www.indotravelers.com/images/logo_indotravelers.jpg
Top of Form
Bottom of Form

http://www.indotravelers.com/images/spacer.gif
Visit Indonesia Year
http://www.indotravelers.com/images/spacer.gif


WISATA DI BONE

Rumah Tradisional sulawesi selatan



Objek Wisata & Tempat Tempat menarik Di Bone.

Bone adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyimpan keanekaragaman daya tarik alam dan budaya yang patut untuk anda kunjungi, seperti museum lapawawoi, bola soba dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :

Museum Lapawawoi.

Museum Lapawawoi.

Merupakan bangunan tempat tinggal raja Bone XXXI Andi Mapanyukki. Museum ini berisi benda-benda seni dan budaya tradisional, foto-foto raja Bone beserta keturunan bangsawan Bone, berbagai jenis benda pusaka, pakaian dan aksesoris tradisional serta benda-benda yang biasa digunakan dalam upacara adat Bone. Terletak di pusat kota Watampone.
 

Bola Soba.

Bola Soba.

Merupakan rumah adat tempat tinggal panglima kerajaan Bone Andi Abdul Hamid Petta Panggawae yang dibangun pada masa pemerintahan raja Bone XXX sekitar tahun 1890. terletak di pusat kota Watampone.


Gua Mampu.

Gua Mampu.

Gua mampu merupakan sebuah terowongan terpanjang dan terindah di sulawesi selatan yang dihiasi stalaktit dan stalagmit di dalamnya, konon relief stalagmit di dalam gua ini menyerupai sosok manusia. Kelebihan gua ini ialah memiliki ventilasi sehingga cahaya bisa masuk. Terletak sekitar 34 Km dari kota Watampone.

Hari Jadi Bone diperingati setiap tanggal 6 April setiap tahunnya. Hal ini berdasarkan Perda Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan ini diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri oleh pakar sejarah dan budayawan Bone. Pada tahun 2007 Bone memperingati hari jadinya ke-677 yang terhitung sejak To Manurung sebagai Raja Bone I (1330). Adapun kegiatan yang dilakukan dalam memperingati Hari Jadi Bone diantaranya sebagai berikut :
A.MATTOMPANG ARAJANG
Merupakan kegiatan mensucikan Benda-benda pusaka kerajaan Bone yang terdiri dari : Keris Lamakkawa, Pedang (Alameng), Latenri Duni, dansenjata perang lainnya serta Salempang Emas (Sembang Pulaweng).
Penyucian ini dilaksanakan secara adat, dengan pelaksana oleh para Empu Keris Pusakan yang disertai tata cara adat lainnya meliputi Sere Bissu yang diiringi musik “Gendrang Bali Sumange”, Ana” Beccing, dan Kancing. Dimasa kerajaan masa lampau, kegiatan ini sebagai bahagian upacara ritual untuk menghadapi hal-hal tertentu seperti ketika akan menghadapi perang, menghadapi wabah penyakit yang melanda kerajaan, dan guna mendatangkan hujan ketika terjadi kemarau panjang.
B.KIRAB KERAJAAN BONE
Kirab kerajaan Bone adalah serangkaian prosesi adat yang digelar pada saat diperingatinya Hari Jadi Bone setiap tahunnya. Dalam prosesi adat ini dipergelarkan sejumlah jenis dan susunan pasukan kerajaan Bone dimasa lampau, yang terdiri dari: Pasukan Petta PonggawaE (Panglima Perang), Pasukan Raja dan Permaisuri, Pasukan Bissu Kerajaan, Pasukan Laskar (Prajurit Kerajaan), Pasukan Ade Pitu (Tujuh Petinggi kerajaan, serta Pasukan Tokoh-tokoh Masyarakat.
C.SENDRATARI MANURUNGNGE RI MATAJANG
Merupakan Sendratari yang menyajikan kisah sejarah awala terjadinya Pengangkatan dan Pelantikan Raja (Mangkau), yang sekaligus merupakan babakan awal terciptanya tata pemerintahan kerajaan I dimasa abad XIII pada tahun 13130 di Tanah Bone. Sendratari ini mengisahkan bahwa Tanah Bone pada abad XIII, kehidupan masyarakat serba tidak menentu. Di antara kelompok masyarakat adat yang ketika itu masing-masing dipimpin oleh seorang ketua adat atau disebut Matoa, saling menjatuhkan dan memerang satu sama lain. Sehingga suasana kehidupan menjadi carut – marut, di mana-mana para warga saling bermusuhan. Tidak Ada lagi tatanan yang dapat mempersatukan rakyat Bone, kemiskinan terjadi, keterpurukan terjadi pada semua sendi kehidupan. Peristiwa demi peristiwa terjadi tanpa terkendali, sehingga suatu saat terjadi satu keajaiban di mana bumii diliputi hujan lebat dan petir menyambar-nyambar dengan sangat dahsyat dan menyilaikan mata. Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian putih yang tidak diketahui asalnya (dalam kisah lontara ia disebut dsebagai PUA CILAO), hujan dan petirpun reda. Mengalami peristiwa ajaib ini para warga yang berperangpun menghentikan aktivitasnya melihat kedatangan seorang yang dianggap turun dari langit. Para wargapun kemudian memberikan salam hormat.
Namun sang pendatang ini menolak untuk diberi penghormatan dan bahkan ia menyampaikan pesan bahwa manusia yang pantas bagi mereka untuk diberi penghormatan buakanlah ia, melainkan ada seseorang yang lain yang kelak akan menjadi pemimpin mereka di Tanah Bone. Dialah yang akan menjadi raja (Mangkau) I di Tanah Bone. Jelang beberapa lama muncullah seseorang dengan berpakaian lengkap yang didampingi oleh para pengapitnya berikut sejumlah Bissu sebagai pasukan pengawal.
Dialah Sang ManurungngE Ri Matajang bergelar Mattasi LompoE. Dan setelah duduk bersama para Tokoh Pemimpin Rakyat (Matoa), maka para Matoa bersepakat mengangkat ManurungngE Ri Matajang sebagai Mangkau (raja) I di tanah Bone. Sehingga sejak itu pada tahun 1330 berdirilah Kerajaan Bone.
D.TARI ALUSU
Tari yang digelar untuk penjemputan tamu kehormatan dari kerajaan lain. Diperagakan pada awalnya oleh para Bissu kerajaanpada abad XVI masa pemerintahan Raja Bone X We Tenri Tuppu MatinroE Ri Sidenreng, tari ini biasa juga disebut Sere Bissu. Kemudian pada masaberikutnya dipergakan dalam bentuk tari yang disebut Tari Alusu yang diperagakan oleh paradara-dara di lingkungkangan bangsawan
E.TARI PAJAGA ANDI
Lahir pada masa Raja Bone Webenri Gau Fatima Banri, ia juga selaku pencipta pakaian “Waju Ponco” yang dikenakan bagi para andi-andi seperti sekarang ini. Tari ini diperagakan pada saat “Majjaga” di saoraja untuk menciptakan suasana hiburan bagi raja ketika sedangberistirahat.
F. TARI MARANENG SONGKOK PAMIRING
Merupakan tari kreasi daerah Bone yang menggambarkan cara menganyam Songkok To Bone. Mulai dari pengambilan bahan (dari ure’ Ca/Serat pohon lontar) sampai menjadibentuk songkok. Tarian ini diperagakan oleh para anak dara dan Kallolona Tanah Bone kostum Adat Bugis Bone, dihadapan para tamu Kehormatan Daerah. dengan Instrumentarian ini adalah gendang, gong, kecapi, suling, dan peralatan lainnya.
G.GENRANG SANRO
Dibawakan oleh para sanro (dukun) untuk meminta restu dewa guna menolak bencana yang diperkirakan akan menimpa kerajaan. Selain itu juga dipakai dalam upacara adat seperti: Acara Menre’ Bola (menempati rumah baru), Mappakkulawi (Maruwwaelawi) yaitu selamatan anak yang baru lahir. Acara ini sudah ada sejak zaman kerajaan, dilakukan oleh para Sanro yang lahir setelah berakhirnya peranan Bissu di lingkungan kerajaan. Para Sanro ini bisa darilaki-laki maupun perempuan. Alat yang digunakan : gendang, anak beccing, kancing, mangkok porselin, dan sinto (dari bahan daun lontar).
H.GENRANG BAJO
Diperagakan oleh oleh komunitas suku Bajo, yang memberikan gambaran situasi kehidupan suku Bajo di pesisir pantai. Genrang Bajo sering disebut juga sebagai Genrang Pabbiring (pesisir)
I.GENRANG BALISUMANGE
Diperagakan oleh rumpun bangsawan untuk mengiringi upacara adat perkawinan, upacara malam perkawinan adat bugis Bone lingkungan Saoraja. Genrang BalisumangE biasa juga digelar pada acara perkawinan antar rumpun bangsawan, mulai dari mappettu ada, tudang penni, sampai hari perkawinan (esso botting); selalu diiringi dengan anak baccing dan kancing.
J.GENRANG PANGAMPI Dibunyikan saat warga menjaga padi, sehingga hama dan burung, pengganggu pemakanpadi menjauh dari tempat/sawah. Alat yang dipakai : alat bambu dan kayu pilihan, biasanyadiiringi dengan ” katiting ” (dari batang padi). (Ditulis Oleh : Mursalim, S.Pd., M.Si. Direktur Lembaga Seni Budaya Teluk Bone)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar